BAB 3 : Sisa Sisa Peradaban Sejarah

1. Alat alat dari Batu dan Tulang

Paleolitikum atau Zaman Batu Tua Bahasa Inggris Paleolithic atau Palaeolithic, Yunani:παλαιός (palaios) — purba dan λίθος (lithos) — batu) adalah zaman prasejarah yang bermula kira-kira 50.000 hingga 100.000 tahun yang lalu. Periode zaman ini adalah antara tahun 50.000 SM – 10.000 SM. Pada zaman ini, manusia Peking dan manusia Jawa telah ada. Di Afrika, Eropa dan Asia, manusia Neanderthal telah hidup pada awal tahun 50.000 SM, manakala pada tahun 20 000 SM, manusia Cro-magnon sudah menguasai kebudayaan di Afrika Utara dan Eropa.
Beberapa perkembangan kebudayaan ditemukan di sekitar Pacitan (ditemukan oleh Von Koenigswald) dan Ngandong. Pada zaman ini, manusia hidup secara nomaden atau berpindah-randah dalam kumpulan kecil untuk mencari makanan. Mereka memburu binatang, menangkap ikan dan mengambil hasil hutan sebagai makanan. Mereka tidak bercocok tanam. Mereka menggunakan batu, kayu dan tulang binatang untuk membuat peralatan memburu. Alat-alat ini juga digunakan untuk mempertahankan diri daripada musuh. Mereka membuat pakaian dari kulit binatang. Selain itu, mereka juga pandai menggunakan api untuk memasak, memanaskan badan dan menakutkan binatang.
Peninggalan yang ditemukan antara lain berupa peralatan batu seperti flakes (alat penyerpih berfungsi misalnya untuk mengupas, menguliti), chopper (kapak genggam/alat penetak), selain itu terdapat pula peralatan dari tulang. Kapak genggam banyak ditemukan di daerah Pacitan, biasa disebut Chopper (alat penetak/pemotong). Dinamakan kapak genggam karena alat tersebut serupa dengan kapak, tetapi tidak bertangkai dan cara menggunakannya dengan cara menggenggam. Pembuatannya dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam dan sisi lainnya dibiarkan apa adanya sebagai tempat menggenggam.
Spesies manusia purba yang telah ada: 1. Meganthropus Paleojavanicus 2. Pithecanthropus Erectus (Pithecanthropus Mojokertensis, Pithecanthropus Robustus) 3. Homo Sapiens (Homo Soloensis, Homo Wajakensis). Proses pembuatan kapak batu: 1. Memilih batu yang cocok dan mudah dibentuk 2. Batu tersebut dipukulkan dengan menggunakan batu yang lebih keras 3. Pembentukan dengan cara dihaluskan menggunakan kapak tulang, tangan juga dilindungi dengan kulit.
Penelitian terhadap tradisi Paleolitikkum di Indonesia dimulai pada tahun 1935, ketika von Koeningswald menemukan alat-alat batu di dasar kali Baksoko di daerah Punung, kabupaten Pacitan. Alat – alat batu itu antara lain kapak perimbas dan kapak pencetak. Alat alat ini ditemukan dari Lapisan Trinil, jadi diperkirakan dari masa Pleistosen Tengah. Von Koeningswald menggolongkan alat batu itu sebagai alat paleotik yang bercorak Chellean yaitu sebuah tradisi yang berkembang pada tingkat awal di Eropa. Menurut Movius, temuan didaerah Punung itu merupakan salah satu corak perkembangan kapak perimbas di asia timur.
Kapak perimbas juga ditemukan di Chou keu Tien , China, di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Misalnya dilembah sungai irawadi (Myanmar) , dilembah sungai Fingnoi (Thailand) , Punjab (Pakistan) , Kota Tampan (Malingsia) dan Punung (Indonesia). Atas dasar fakta fakta itu, Movius berpendapat bahwa di asia timur berkembang corak budaya paleotik berbeda dengan yang berkembang di Eropa, Afrika dan Asia Barat.
1. Kemunculan Kapak Perimbas
Peradaban manusia purba terbagi dalam beberapa masa, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, serta masa perundagian. Setiap masa memiliki ciri khas tersendiri. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia purba telah mengenal alat-alat berburu seperti kapak perimbas, alat-alat serpih, dan alat-alat tulang. Pada masa bercocok tanam, manusia purba telah mengenal sistem kepercayaan dan telah mampu membuat bangunan besar dari batu (Megalit), berbagai alat dari batu, gerabah, dan perhiasan. Pada masa perundagian, manusia purba telah mengenal kehidupan sosial ekonomi dan mampu menghasilkan berbagai benda dari perunggu.
Selain di Indonesia, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, kapak perimbas ini banyak ditemukan di wilayah luar Indonesia, khususnya kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Kapak perimbas diperkirakan sebuah peralatan awal yang dibuat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara merampingkan pada suatu permukaan batu untuk memperoleh tajaman. Bentuk alat ini meruncing, dan kulit batu masih melekat pada pangkal alatnya sebagai pemegang. Pada umumnya alat ini dipersiapkan dari sebuah serpihan besar. Bentuk alat ini mendekati bujur sangkar atau persegi empat panjang. Tajamnya dipersiapkan melalui penyerpihan terjal pada permukaan alas menuju pinggiran batu (Poesponegoro, 2008: 96).
Tajam kapak perimbas, yang berbentuk konveks (cembung) atau kadang-kadang lurus, diperoleh melalui pemangkasan pada salah satu sisi pinggiran batu. Kulit batu masih melekat pada bagian besar permukaan batu (Poesponegoro, 2008: 96).Melihat seluruh penemuan di wilayah Punung, dan dari hasil-hasil penggolongan alat-alat Paleolitik yang tercapai, tampaklah bahwa jenis kapak perimbas menduduki tempat utama di antara alat-alat yang masif. Kapak perimbas budaya Pacitan oleh Heekeren dibagi dalam beberapa jenis atas dasar ciri-ciri pokok yang sudah sebagai landasan penggolongan Movious. Jenis-jenis penggolongan itu adalah:
 Tipe setrika (iron-heater chopper), berciri: panjang menyerupai setrika, berpenampang lantang plano-konveks, dan memperlihatkan penyerpihan yang memancang dan tegas.
 Tipe kura-kura (tortoise ), berciri: beralas membulat dengan permukaan atas yang cembung dan meninggi.
 Tipe serut samping (side scraper), berciri: berbentuk tidak teratur dan tampak gelap, tajamnya dibuat pada sebelah sisi.

2. Persebaran Kapak Perimbas
1. Luar Indonesia
Peralatan prasejarah yang sangat menonjol di Indonesia pada masa Paleolitikum adalah kapak perimbas. Kapak ini merukan jenis kapak yang digenggam dan berbentuk masif. Manusia pendukung dari kapak perimbas ini diduga adalah Pithecanthropus. Bukti-bukti pendukung dari kebudayaan ini ditemukan pula di Cina, yaitu Chou-kou-tien, dan kapak ini ditemukan bersamaan dengan fosil manusia Pithecanthropus pekinensis. Mengenai persebaran kebudayaan kapak perimbas telah dilakukan penelitian sejak tahun 1397 dan 1398 di Myanmar. Ada pun tempat persebaran kapak perimbas adalah Thailand, Pakistan, Myanmar, Malaysia, Cina, dan Indonesia. Kalau dilihat dari sudut teknologinya, ternyata kapak perimbas yang ditemukan di Indonesia memiliki kesamaan dengan yang ditemukan di negara lain.
Movius berpendapat bahwa di Asia Tenggara dan Asia Timur berkembang suatu budaya Paleolitik yang berbeda dengan corak yang berkembang di daerah sebelah barat seperti Eropa, Afrika, Asia Barat, dan sebagian India, khususnya mengenai bentuk dan teknik alat-alat batunya. Hasil penemuan menunjukkan kalau teknik pembuatan yang ada di Asia Timur dan Asia Tenggara adalah monofasial, yaitu pengasahan alat-alat batu dilakukan pada salah satu permukaan saja. Kebudayaan kapak perimbas digolongkan sebagai tingkat awal budaya batu di Asia Timur dan masa perkembangannya pada umumnya ditentukan sejak kala Plestosen Tengah, sesuai dengan keadaan geografisnya.
Perimbangan tipe-tipe alat di daerah persebaran Asia Tenggara dan Asia Timur tidak sama. Ada tipe-tipe tertentu yang menonjol daripada tempat lain. Yang menonjol dalam kelompok lokal budaya Paleolitik di Asia Timur dan Asia Tenggara adalah tipe kapak perimbas dan kapak penetak. Begitu pula jenis batuan yang digunakan untuk membuat kapak perimbas berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Misalnya, fosil kayu banyak dipakai di Myanmar, kuarsa di Punjab, Cina, dan Malaysia, sedangkan kapur kersikan dan tufa kersikan banyak dipakai di Indonesia.
2. Di Indonesia
Salah satu ciri khas dari kehidupan prasejarah Indonesia adalah berkesinambungan dari satu zaman ke zaman berikutnya. Fenomena seperti ini terus berkembang dari mulai zaman kehidupan awal manusia sampai zaman sekarang. Bukti adanya kapak perimbas menunjukkan adanya sebuah kehidupan pada zaman Paleolitikum, zaman yang diperkirakan sebagian bumi masih diselimuti es. Keberadaan kapak perimbas di Indonesia ternyata memiliki persebaran yang luas dan khusus berkembang di tempat-tempat yang banyak mengandung bahan batuan yang sesuai untuk pembuatan perkakas-perkakas batu. Penelitian mengenai tradisi paleolitik di Indonesia dimulai pada 1935, ketika Koenigsswald menemukan alat-alat batu di daerah Punung (Pacitan), di dasar Kali Baksoko. Alat-alat tersebut bercorak kasar dan sederhana teknik pembuatannya. Koenigswald beranggapan bahwa kebudayaan Paleolitik yang tersebar ada di Pacitan sama dengan kebudayaan yang berkembang di Eropa pada zaman awal Paleolitik. Temuan kapak perimbas di Pacitan ini merupakan sebuah kebudayaan terawal di Indonesia.
Perhatian terhadap kebudayaan kapak batu dari zaman Paleolitik di Indonesia mulai meluas. Dan penemuan-penemuan baru terus terjadi, seperti; Sumatra Selatan (lahat), Lampung (Kalianda), Kalimantan Selatan (Awangbangkal), Sulawesi Selatan (Cabbege), Bali (Sembiran, Trunyan), Sumbawa (Batutring), Flores (Wangka, Maumere, Ruteng), dan Timor (Atambua, Kefanmanu, Noelbaki). Daerah Punung ternyata daerah terkaya akan kapak perimbas sehingga sekarang merupakan tempat penemuan terpenting di Indonesia.
3. Keadaan Manusia Pendukungnya
Kehidupan zaman batu ini telah berlangsung sejak 600.000 tahun yang lalu. Selama kurun waktu tersebut manusia hanya menggunakan alat-alat yang paling dekat dengan lingkungan kehidupan mereka, seperti kayu, bambu, dan batu. Mereka menggunakan batu-batu tersebut untuk berburu maupun untuk membersihkan makanan. Batu-batu tersebut juga mereka gunakan sebagai kapak yang digenggam untuk memotong kayu atau membunuh binatang buruan. Kehidupan manusia pendukung zaman ini masih nomaden atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kepindahan mereka bergantung dari tersedianya bahan-bahan makanan terutama binatang buruan. Jadi, inti kegiatan hidup harian manusia pendukung kebudayaan kapak perimbas (zaman Paleolitikum) adalah mengumpulkan bahan makanan untuk dikonsumsi saat itu. Kegiatan seperti itu disebut peradaban food gathering atau pengumpul makanan. Berdasarkan penemuan fosil manusia purba, jenis manusia purba yang hidup pada zaman Paleolitikum adalah Pithecanthropus erectus, Homo wajakensis, Meganthropus paleojavanicus, dan Homo soloensis. Fosil ini ditemukan di aliran Sungai Bengawan Solo.
1.PENGERTIAN MEGALITIKUM
Megalitikum berasal dari kata mega yang berarti besar, dan lithos yangberarti batu. Zaman Megalitikum biasa disebut dengan zaman batu besar,karena pada zaman ini manusia sudah dapat membuat dan meningkatkankebudayaan yang terbuat dan batu-batu besar. kebudayaan ini berkembang dari zaman Neolitikum sampai zamanPerunggu. Pada zaman ini manusia sudah mengenal kepercayaan. Walaupunkepercayaan mereka masih dalam tingkat awal, yaitu kepercayaanterhadap roh nenek moyang, Kepercayaan ini muncul karena pengetahuanmanusia sudah mulai meningkat.
2.PERIODISASI ZAMAN MEGALITIKUM
Menurut Von Heine Geldern, kebudayaan Megalithikum menyebar ke Indonesia melalui 2 gelombang yaitu :
1. Megalith Tua menyebar ke Indonesia pada zaman Neolithikum (2500-1500 SM) dibawa oleh pendukung
2. Kebudayaan Kapak Persegi (Proto Melayu). Contoh bangunan Megalithikum adalah menhir, punden berundak-undak, Arca-arca Statis.
Megalith Muda menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1000-100 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunan megalithnya adalah peti kubur batu, dolmen, waruga Sarkofagus dan arca-arca dinamis.
3.KEBUDAYAAN MEGALITIKUM
A. Menhir

Menhir adalah batu tunggal (monolith) yang berasal dari periode Neolitikum (6000/4000 SM-2000 SM) yang berdiri tegak di atas tanah. Istilah menhir diambil dari bahasa Keltik dari kata men (batu) dan hir (panjang). Menhir biasanya didirikan secara tunggal atau berkelompok sejajar di atas tanah. Diperkirakan benda prasejarah ini didirikan oleh manusia prasejarah untuk melambangkan phallus, yakni simbol kesuburan untuk bumi. Menhir adalah batu yang serupa dengan dolmen dan cromlech, merupakan batuan dari periode Neolitikum yang umum ditemukan di Perancis, Inggris, Irlandia, Spanyol dan Italia. Batu-batu ini dinamakan juga megalith (batu besar) dikarenakan ukurannya. Mega dalam bahasa Yunani artinya besar dan lith berarti batu. Para arkeolog mempercayai bahwa situs ini digunakan untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penyembahan arwah nenek moyang.
B. Dolmen

Dolmen adalah meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang. Di bawah dolmen biasanya sering ditemukan kubur batu. Dolmen yang merupakan tempat pemujaan misalnya ditemukan di Telagamukmin, Sumberjaya, Lampung Barat. Dolmen yang mempunyai panjang 325 cm, lebar 145 cm, tinggi 115 cm ini disangga oleh beberapa batu besar dan kecil. Hasil penggalian tidak menunjukkan adanya sisa-sisa penguburan. Benda-benda yang ditemukan di antaranya adalah manik-manik dan gerabah.
C. Sarkofagus

Sarkofagus atau keranda yang terbuat dari batu. Bentuknya menyerupai lesung dari batu utuh yang diberi tutup Daerah tempat ditemukannya sarkofagus adalah Bali. Menurut masyarakat Bali Sarkofagus memiliki kekuatan magis/gaib. Berdasarkan pendapat para ahli bahwa sarkofagus dikenal masyarakat Bali sejak zaman logam.
Fungsinya sebagai tempat menyimpan mayat yang disertai bekal kuburnya. Menurut Von Heine Geldern, kubur batu termasuk kebudayaan megalitikum gelombang kedua atau disebut juga Megalit Muda yang menyebar ke Indonesia pada zaman perunggu (1.000-100 SM) dibawa oleh pendukung Kebudayaan Dongson (Deutro Melayu). Contoh bangunan megalit gelombang ini adalah peti kubur batu, dolmen, waruga sarkofagus, dan arca-arca dinamis. Peti kubur adalah peti mayat yang terbuat dari batu-batu besar. Kubur batu dibuat dari lempengan atau papan batu yang disusun persegi empat berbentuk peti mayat yang dilengkapi dengan alas dan bidang atasnya juga berasal dari papan batu.
Selain Pagaralam dan Lahat, daerah penemuan peti kubur adalah Cepari Kuningan, Cirebon (Jawa Barat), Wonosari (Yogyakarta), dan Cepu (Jawa Timur). Di dalam kubur batu tersebut juga ditemukan rangka manusia yang sudah rusak, alat-alat perunggu dan besi, serta manik-manik. Dari penjelasan tentang peti kubur, tentu dapat ketahui persamaan antara peti kubur dan sarkofagus, yang keduanya merupakan tempat menyimpan mayat disertai bekal kuburnya. Selama ini, Pagaralam memang telah dikenal dengan peninggalan zaman megalitikum. Hal ini terbukti dengan penemuan arca-arca yang tersebar di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, seperti Karangindah, Tinggiari Gumai, Tanjungsirih, Padang Gumay, Pagaralam, Tebatsementur (Tanjungtebat), Tanjung Menang-Tengahpadang, Tanjungtebat, Pematang, Ayik Dingin, Tanjungberingin, Geramat Mulak Ulu, Tebingtinggi-Lubukbuntak, Nanding, Batugajah (Kutaghaye Lame), Pulaupanggung (Sekendal), Gunungmigang, Tegurwangi, dan Airpur.
Penemuan yang paling menarik adalah megalitik yang dinamakan Batugajah, yakni sebongkah batu berbentuk telur, berukuran panjang 2,17 m, dan dipahat pada seluruh permukaannya. Bentuk batunya yang asli hampir tidak diubah, sedangkan pemahatan obyek yang dimaksud disesuaikan dengan bentuk batunya. Namun, plastisitas pahatannya tampak indah sekali. Batu dipahat dalam wujud seekor gajah yang sedang melahirkan seekor binatang antara gajah dan babi-rusa, sedangkan pada kedua belah sisinya dipahatkan dua orang laki-laki. Laki-laki sisi kiri gajah berjongkok sambil memegang telinga gajah, kepalanya dipalingkan ke belakang dan bertopi. Perhiasan berbentuk kalung besar yang melingkar pada lehernya. Begitu pula pada betis, di sana tampak tujuh gelang. Pada ikat pinggang yang lebar tampak pedang berhulu panjang, sedangkan sebuah nekara tergantung pada bahunya. Pada sisi lain (sisi kakan gajah) dipahatkan seorang laki-laki juga, hanya tidak memakai pedang. Pada pergelangan tangan kanan laki-laki ini terdapat gelang yang tebal. Adapun pada betis tampak 10 gelang kaki.
Temuan batu gajah dapat membatu usaha penentuan umur secara relatif dengan gambar nekara itu sebagai petunjuk yang kuat, selain petunjuk-petunjuk lain seperti pedang yang mirip dengan belati Dong Son (Kherti, 1953 : 30), serta benda-benda hasil penggalian yang berupa perunggu (besemah, gangse) dan manik-manik. Dari petunjuk-petunjuk di atas, para ahli berkesimpulan bahwa budaya megalitik di Sumatera Selatan, khususnya di Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam, berlangsung pada masa perundagian. Pada masa ini, teknik pembuatan benda logam mulai berkembang. Sebuah nekara juga dipahatkan pada arca dari Airpuar. Arca ini melukiskan dua orang prajurit yang berhadap-hadapan, seorang memegang tali yang diikatkan pada hidung kerbau, dan orang yang satunya memegang tanduknya. Kepala serigala (anjing) tampak di bawah nekara perunggu tersebut.
D. Kubur Batu

Kubur Batu/Peti Mati yang terbuat dari batu besar yang masing-masing papan batunya lepas satu sama lain. fungsi dari kubur batu adalah sebagai tempat menyimpan mayat yang disertai bekal kuburnya.

E. Punden Berundak

Punden berundak merupakan contoh struktur tertua buatan manusia yang tersisa di Indonesia, beberapa dari struktur tersebut beranggal lebih dari 2000 tahun yang lalu. Punden berundak bukan merupakan “bangunan” tetapi merupakan pengubahan bentang-lahan atau undak-undakan yang memotong lereng bukit, seperti tangga raksasa. Bahan utamanya tanah, bahan pembantunya batu;menghadap ke anak tangga tegak, lorong melapisi jalan setapak, tangga, dan monolit tegak. Fungsi dari punden berundak itu sendiri adalah sebagai tempat pemujaan terhadap roh nenek moyang yang telah meninggal.
F. Arca Batu

Arca/patung-patung dari batu yang berbentuk binatang atau manusia. Bentuk binatang yang digambarkan adalah gajah, kerbau, harimau dan moyet. Sedangkan bentuk arca manusia yang ditemukan bersifat dinamis. Maksudnya, wujudnya manusia dengan penampilan yang dinamis seperti arca batu gajah. Arca batu gajah adalah patung besar dengan gambaran seseorang yang sedang menunggang binatang yang diburu. Arca tersebut ditemukan di daerah Pasemah (Sumatera Selatan). Daerah-daerah lain sebagai tempat penemuan arca batu antara lain Lampung, Jawa Tengah dan Jawa Timur
G. Waruga

Waruga adalah kubur atau makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu dan terdiri dari dua bagian. Bagian atas berbentuk segitiga seperti bubungan rumah dan bagian bawah berbentuk kotak yang bagian tengahnya ada ruang.

Iklan

Tulis Komentar Anda. Pakai Facebook atau Twitter disarankan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s