Hanya Sekedar Cerpen

Aku menatap Jalanan disekitarku. Sepi sekali. Seakan akan hanya ada aku didunia ini. Perlahan mulai kutuntun kembali sepedaku, kukayuh pedalmya menuju sebuah gang diseberang jalan. aku menaikkan kecepatan sepedaku hingga tiba didepan sebuah rumah. Rumahnya bertingkat satu, dan kulihat cat dindingnya sudah mulai pudar. aku hanya berdiam diri bersembunyi dibalik tembok pagar rumahnya. tiba tiba, terdengar suara seseorang memainkan pianika dari dalam rumah itu. Setelah kudengar sesaat, ternyata itu adalah lagu rohani kristen. Hanya diam sambil mendengarkan alunannya.

“Lia, aku tahu itu kamu. Marilah sebentar, temui aku didepan rumahmu. ada yang ingin kukatakan padamu” Bisikku dalam hati, berharap dia dapoat mengerti maunya hati ini. Aku mendengar dia terus bermain pianika, lagunya pun mulai beragam. Tiba Tiba suara itu tak kudengar lagi. Tanpa kusadarai mulutku mulai berbicara agak keras “Yaaah.. kenapa kamu berhenti bermain?”. Kalimat itu mengucur saja dari mulutku hingga menyebabkan Dia keluar dari rumahnya sambil bertanya “Piter, kamukah itu?” Ketika dia sampai digerbang, Dia melihatku disampingnya.

“Apa yang kamu lakukan disini,Piter?” tanyanya. “Emm, aku hanya ingin berkunjung kerumahmu” Balasku. Aku tak ingin berkata bohong padanya. “Oh, hanya berkunjung ternyata” balasnya pelan. Lalu ketika percakapan berhenti, kami mulai saling bertatapan muka. Saling diam tanpa bicara. Kulihat dia semakin manis ketika diam. Sama seperti ketika pertama kali aku bertemu dengannya. Tapi semakin aku mengagumi kecantikannya, semakin aku menyadari bahwa aku tak mungkin bisa memiliki dirinya. 

“Ehh, kamu kok jadi menghayal?” katanya tiba tiba. Suaranya mengejutkanku. “Engga kok, siapa pula lagi menghayal ?” Kataku seraya mencari alasan. “Lia, boleh aku minta segelas air putih?” Kataku lagi padanya.

“Boleh,kenapa gak minta dari tadi ? Sebentar yaaa” katanya padaku sambil tersenyum manis sekali, lalu bergegas masuk kedalam rumah. Senyuman itu akan selalu kuingat dan kuyakin pasti menjadi bunga tidur terindah dalam setiap mimpiku. Lalu, kulihat dia datang membawa segelas air putih digelas bening sambil berjalan menghampiriku. Langkah kakinya sangat indah. Mungkin juga itu salah satu alasan aku (pernah) suka padanya. 

 “Ini segelas air untukmu”. Tangannya menyodorkan gelas itu kearahku. Aku mengambil gelas itu lalu segera meminumnya. “Ahh, segerr banget airnya. Makasih yaa Lia” ucapku pelan padanya. “Sama sama Piter” balasnya sambil tersenyum. Tiba tiba aku merasa agak pening dikepala, rasanya agak berdengung sekali kepala ini. Sepertinya dia melihat eskpresiku sedang pusing.
“Sepertinya kamu kelelahan, mari duduk sebentar” katanya padaku. “Baiklah, mungkin hanya kelelahan sebentar” balasku. Aku menuntun sepedaku lalu memarkirkannya di pekarangan rumahnya. Dia memegangi tanganku memasuki rumahnya. Inilah pertama kali tanganku dipegang olehnya, bukan sebaliknya. Aku duduk disofa rumahnya,cukup empuk kurasakan. Lalu kuperhatikan isi dalam ruang tamunya, ada foto bergelantungan, poster,dan aneka hiasan didinding rumahnya.

“Sebentar yaa, aku akan kembali sesaat lagi”
“Baiklah, tapi jangan lama lama ya” kataku padanya.
“Iyaa… kalau kamu udah baikan, bilangin aku ya”
“OK !”

Ketika aku sedang duduk dirumahnya, aku teringat saat kami chattingan di facebook dulu. Dia pernah berjanji kalau aku bisa berkunjung kerumahnya dan sekarang menjadi kenyataan. Aku senyam senyum sendiri mengingat momen itu. Tapi kedatangannya membuyarkan lamunanku.
“Kamu udah baikan piter ?”
“udahkok. Sebentar ajanya sembuhnya” jawabku.
“oh, baguslah. Kukira tadi penyakitnya parah” katanya lagi.

Sesaat setelah dia mengatakan itu,suasana kembali hening. Memang hanya kami berdua yang ada diruangan ini. Aku berpura pura mengambil handphoneku, lalu mengecek mention yang masuk ke twitterku. Masih hening saja suasananya. Sepertinya dia menunggu tindakanku selanjutnya. Aku tak bisa terus begini, aku harus mencairkan suasana.

“Aku boleh tanya sesuatu pada kamu” tiba tiba dia memulai pembicaraan.
“Boleh,boleh kok. Mau tanya apa? ” jawabku.

“Kamu masih suka sama aku” katanya pelan.
Mendengar pertanyaan itu, aku teringat kembali pada momen masa lalu ketika dia pernah mengatakan hal ini padaku. Aku harus mengatakan jawaban yang berbeda, tidak boleh sama jika aku tak ingin lagi diberi harapan palsu olehnya.

“Kalo soal itu, engga” jawabku santai.
“Maksudnya ?” tanyanya penasaran.
Engga, aku gak nyimpan perasaan lagi ke kamu. Akhirnya aku sadar kalau kamu itu gakpernah suka denganku. Kamu gakpernah anggap aku berarti. Jika aku masih masih suka padamu, aku harus rela jika suatu saat kamu pasti mengecewakan aku”

‘Engga, semua yang kamu lihat tak seperti yang kamu duga. Aku itu masih sayang sama kamu. Jangan kecewakan aku lagi, Piter !”
“Jangan katakan  itu lagi ! Kamu berbohong ! Aku tak percaya lagi padamu!”
Aku mulai terbakar emosi mengatakannya, karena sudah cukup menahan amarah dari tadi.

“Apa yang harus kutunjukkan agar kamu percaya padaku?”
“Baiklah, mana jam tangan merah yang kuberi padamu saat hari ulangtahunmu ?” Tanyaku padanya dengan percaya diri, karena aku tidak pernah (lagi) melihatnya memakai jam tangan yang kuberi padanya. Bahkan saat itupun aku tidak melihatnya.

“Emm, jam ta- ngan” desahnya pelan.
“Hahaha, sudah jelas semua ! Kamu tidak  menghargai aku ! Bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa kamu masih suka padaku padahal kamu tidak menyimpan barang pemberianku ?” Kataku santai, kurasakan emosiku sudah mulai menurun. Lalu kulihat dia menunduk tak berani menatapku.

“Kamu bagaikan Matahari buatku”

Ketika aku belum selesai berbicara, kulihat matanya mulai berbinar.
“Maka , menjauhlah seratus lima puluh juta kilometer dari hadapanku !” 
Aku bangkit lalu segera mengambil sepedaku yang terparkir dipekarangan rumahnya. Aku bersumpah inilah terakhir kalinya aku menginjakkan kakiku dirumah ini. Kulihat dia mengejarku perlahan dari belakang. Aku terus mengayuh pelan sepedaku menjauh dari gang rumahnya. Biasanya dulu ketika aku ingin pergi dari rumahnya, dia selalu mengatakan “Hati Hati” padaku. Tapi tak kudengar lagi kata kata itu keluar dari mulut manisnya. Aku hanya melihat mulutnya mengatakan sesuatu, seakan akan berkata “Awas… Awasss.. Awasss..”

Ketika kutorehkan kembali pandanganku kedepan, aku sempat melihat sebuah benda besar berada tepat didepanku. Tak sempat aku memikirkan benda apa itu, suasana tiba tiba menjadi sunyi sekali. Hening

EPILOG

Ketika aku membuka mataku. aku melihat banyak orang menangis mengelilingiku. Kulihat kepala seseorang mendekatiku lalu perlahan mencium keningku. Tak sempat aku berfikir siap adia, aku kehilangan kesadaran. Pergi

Iklan

2 pemikiran pada “Hanya Sekedar Cerpen

Tulis Komentar Anda. Pakai Facebook atau Twitter disarankan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s