Surat Cinta untukmu

Karena kamu tidak pernah memberikan waktumu untuk bertemu denganku, aku menulis surat ini untukmu. Dan rencananya akan kutitipkan padamu. Tetapi, kuurungkan niatku untuk memberikan surat ini padamu, karena aku tahu pasti surat ini akan berakhir di tong sampah. Senasib dengan jam tangan pemberianku.

Menulis surat ini bukanlah sesuatu yang mudah. Sebuah kegiatan yang memakai kejelian fikiran, perasaan dan emosi. Sekalipun itu akan mengungkit kisah lama. Entahlah, tampaknya aku sedang berbasa basi dengan kata kata ini.

Mungkin kamu yang sedang membaca surat ini dalam keadaan sehat dan kuharap sehat sampai selama lamanya. Aku juga dalam keadaan sehat. Kuharap begitu

Seharusnya aku mengatakan ini padamu saat kita bertemu. Tapi entahlah, mungkin kamunya yang very busy sehingga tidak dapat memberi waktu bertatap muka denganku atau memang kita tidak pernah ditakdirkan untuk bertemu. Tapi dengan surat ini, aku ingin bercerita sedikit padamu.

Tepat 1 bulan yang lalu, aku memeriksakan penyakitku ke dokter. Setelah diuji dilabolatorium, hasilnya pun dirilis. Dokter memvonis aku terkena penyakit limfadensis TB atau Tuberkulosis kelenjar. Pertama mendengar kata “Tuberculosis”,fikiran langsung terbayang penyakit mengerikan, menular dan apapun itu yang tidak enak didengar. Tapi aku yakin vonis dokter bukanlah vonis Tuhan. Pasti ada jalan keluar.

Untuk itu, Dokter menyarankanku untuk banyak makan, banyak istirahat dan mengurangi stres/ beban pikiran. Tapi aku merasa aneh  saat mendengar usul terakhir. Beban pikiran ? Dokter pun mengatakan kurangi hal-hal yang membuat fikiran stres. Misalnya hutang, terlalu banyak belajar, terlalu banyak memikirkan seseorang dan lain lain. Aku tertegun. Dokter ini bisa tahu kalau setiap pagi, malam, didalam mimpiku aku selalu teringat seseorang.

Kamu tentu bukan siapa seseorang yang kumaksud? iya, kamu ! Marnala Natalia Sihotang. Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Bahkan saat menulis surat ini, masih teringat jelas padamu. Terakhir aku coba mempraktekkan sebuah cara menghilangkan masalah yang pernah diajarkan oleh guru fisikaku. Katanya jika ada masalah, kalikan hasilnya dengan nol, hasilnya pasti nol. Maka , Marnala X 0 = 0

Dengan adanya penyakit ini, aku sadar aku harus segera menjauh darimu. Inilah alasan mengapa aku meng-unfollow twitter, unfriend facebookmu dan banyak lagi. Semua temanku bilang aku harus segera moveon. “2014 kau belum moveon, Ter ?” . Tak ingin lagi aku teringat denganmu, ngestalk timelinemu lagi, tidak lagi berkomunikasi lagi denganmu. Titik

Lembar ke-2

Mungkin aku sangat bodoh mengambil keputusan. Mengapa aku harus mengakhiri pertemanan kita? Kamu tidak berbuat salah. Aku yang salah. Salahku, karena menaruh hati pada orang yang tidak tepat. Sebenarnya bukan tidak tepat, hanya karena aku tidak mempunyai komitmen.

Untuk apa aku menjauh ? Disaat orang lain ingin mempunyai banyak teman, mengapa aku disini justru mengurangi teman ? Bodohnya aku.

Kita akan berteman selamanya, meskipun kita tidak berteman di facebook dan twitter. Nyatanya, itu hanya social media. Tapi, CINTA berawal dari TEMAN. Kita sudah pernah mengalami hal itu bukan ? Berkenalan, berteman, hingga rasa suka itu tumbuh, tapi semua berakhir dengan pahit.

Siapa sih orang yang ingin hidupnya pahit ?
Siapa sih orang yang rela jatuh ke lubang yang sama?

Aku melakukan semua ini, aku hanya takut perasaan suka itu tumbuh lagi. Aku hanya berharap yang terbaik. Hanya itu.

Kita akan selalu menjadi teman. I promise

“Aku tidak menyuruhmu membalas surat ini”
“Dengarkan apa yang dikatakan suara dari hati kecilmu”
Pieyter Mardi

Iklan

Tulis Komentar Anda. Pakai Facebook atau Twitter disarankan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s