[CERPEN] MLS Series Part 1 “BEGINNING”

 

Nature-Tilt-shift-l

Jumat, 9 Februari 2014

Nalia tidak sanggup lagi menahan kesalnya pada Shania, teman sekelasnya itu. Mengapa tidak,baru kemarin Nalia meminjamkan jam tangan merah miliknya pada Shania, dan sekarang dia mengaku jika jam tangan itu terjatuh dari kantung bajunya saat ia hendak pulang mengendarai sepeda motor, sehingga jam tangan itu pecah kacanya dan mesinnya tidak berfungsi lagi.

Lalu untuk mengganti biaya perbaikannya, Shania merogoh sesuatu dari dalam kantung bajunya dan memberikannya pada Nalia. Ternyata itu jam tangan Nalia yang sudah pecah dan selembar uang lima puluh ribu rupiah.

“Maafkan aku,Lia. aku telah merusak jam tanganmu. Sebagai permintaan maafku, terimalah ini. Aku sungguh menyesal, dan aku berjajni untuk tidak mengulangi kecerobohanku ini”

Nalia yang masih kesal pun terpaksa meredam amarahnya, karena Shania sudah meminta maaf dengan lembut dan bersedia membayar biaya perbaikannya.
“Baiklah Shania, aku memaafkanmu. Tapi jangan ulangi lagi ya”
“Terima kasih,Lia. Kamu memang sahabatku yang paling baik” kata Shania sambil mencubit gemas pipi Nalia. Shania beruntung karena Nalia tidak terlalu marah padanya. Itu membuatnya lega. Dan Shania tahu jika Nalia bukan tipe orang yang pemarah, dan sudah memberi maaf. Shania adalah teman Nalia sejak SMP dan mereka sangat kompak. Sehingga teman temannya sering mengira mereka ialah dua bersaudara.

“Nalia, apa kamu lapar? Mari kutraktir ke kantin.”
“Hmm, gimana ya. OK, mau dong. Kamu yang bayarin yahh, hehehe”

Mereka berjalan bersama menuju kantin. Sambil berpegangan tangan, seperti sepasang sahabat.

“Lia, kamu mau kubelikan roti coklat?’
“Iyaa, terserah kamu deh. Kan kamu yang nraktir.”
“Sebentar yaa, aku beliin dulu”

“Hahaha, kamu memang tahu snack kesukaan aku apa. Makasihh ya Niaa”
“Iya, sama sama. Yuk kita kekelas, udah bel tuh. Pasti teman yang lain udah masuk”

Sambil mengunyah roti coklat itu, mereka berjalan menuju kelas. Terlihat masih ada siswa yang berdiri didepan pintu. Setelah sampai kedalam kelas, mereka pun duduk dibangku mereka yang terletak didua bangku paling depan. Nalia dan Shania ialah teman sebangku. Semua siwa sudah masuk kedalam kelas, tapi gurunya tak kunjung masuk”

Tiba tiba muncul Mikhael, ketua kelas mereka yang tiba tiba berdiri didepan kelas.
“Teman-teman, Guru Biologi kita engga datang hari ini. Kabar lainnya, hari ini kita bakal cepat pulang. Kira kira setengah jam lagi kita pulang”

“Lha,mikhael. Knapa kita cepat pulang?” tanya Nalia.
“Itulah yang aku kurang tahu, tadinya kepala sekolah cuma bilang gitu aja samaku dan kepada ketua kelas lainnya”
“Gimana sih, milkhael. Ada lagi yang kamu tahu selain itu ?”
“Sempat aku nguping pembicaraan di Kantor, ada seorang siswa yang meninggal dunia. Tapi bukan siswa sekolah kita”
“Trus, siswa sekolah lain yang meninggal, kenapa kita yang cepat pulang ?”
“Itu masih menjadi sebuah MISTERI” tiba tiba salah seorang teman mereka berteriak sambil menirukan gaya kocak Spongebob yang memainkan tangannya.

Seketika seisi kelas menjadi Tertawa.

08:00

Suara Bel berbunyi mengagetikan penghuni X IPA 1 yang sedang sibuk belajar.
“HOREEEEEE, pulangg” teriak mereka bersamaan.
Dalam beberapa menit saja lapangan dan pagar sekolah menjadi sangat ramai dipenuhi oleh siswa. Mereka berhamburan keluar kelas,walau mereka tidak tahu apa alasan mereka dipulangkan seperti ini. Tiga orang gadis sedang berkumpul, saling mengelilingi. Sepertinya mereka akan merencanakan kemana mereka akan jalan jalan hari ini.

“Kita kemana nih jalan jalan?” tanya Shania mengawali pembicaraan.
“SUN PLAZA !” jawab Nalia tiba tiba.
“Gimana denganmu, Lusi ? Kamu ikut engga? ” tanya Shania pada Lusi yang sedang sibuk memainkan ponselnya.
“Hmm, sebenernya aku mau ikut. Tapi aku gak bisa hari ini” kata Lusi denga  raut wajah sedih.
“Lha, knapa ? Masaa cuma kami berdua aja yang pergi?”
“Iyaa, aku baru dapat kabar, kalau……….” Lusi terdiam sejenak. Sepertinya Lusi sedang menyembunyikan sesuatu dari teman- temannya. Dia engga mau membuat temannya panik, apalagi Nalia. Dia pasti akan sangat terpukul andai Lusi menjelaskan semuanya.
” Lusi, kok malah diam ?” Bicara dongg” tanya Nalia tak sabaran.
“Anu, emm, Aku akan kerumah saudara hari ini. Mamaku sms aku barusan, jadi mama ngajak aku. Karena kubilang hari ini kami cepat pulang” jawab Lusi berbohong. Namun dia memasang wajah yang meyakinkan agar tidak terlihat sedang berbohong.

“Yaudah, kalau kamu engga bisa, kami bisa pergi berdua” kata Nalia
“Baiklah, selamat berseang senang” kata Lusi. Dia lalu bergegas pergi meninggalkan Nalia dan Shania, lalu menghilang begitu saja diantara kerumunan siswa lainnya.

“OKE, Nalia. Kita akan pergi sekarang ?” tanya Shania sekali lagi.
“Ya, Ayoo” balas Nalia bersemangat.

Mereka berdua berlari menuju gerbang sekolah. Mereka berdiri terpaku mengunggu angkot yang akan membawa mereka ke Sun Plaza.

“Mungkin akan lebih cepat jika kita menunggu disimpang sana.” Shania menunjuk kearah perempatan jalan disana.
“Ya, Baiklah. Ayo kita kesana” balas Nalia

Shania sudah berjalan menuju perempatan, tapi Nalia masih berdiri terpaku ditempatnya. ketika ia akan melangkahkan kakinya untuk menyusul Shania, keanehan terjadi.

Dia memperbaiki letak kacamatanya, lalu mengucek-ucek lensanya.

Tiba tiba saja dia melihat sesosok pria yang amat dikenalnya sedang berdiri tepat diseberang jalan yang agak kejauhan. pria itu sedang menatap dingin dirinya. Nalia berusaha memastikan itu benar benar dia. Kini cowok itu mengukir senyum yang amat menyeramkan kearahnya. Nalia merasakan aneh, dia mengenal betul sosok pria itu, tapi tidak dengan senyumannya.

Nalia pun memanggilnya untuk memastikan itu benar dia.

“Pieteerr!” teriaknya keras.
Sesaat sebuah mobil melintas cepat menghalangi pendangannya. Dia sudah menghilang. Nali mengucek-ucek matanya sekali lagi, tapi pria itu tidak lagi disitu.

“Lha, kok menghilang. Kemana diaa ? Apa aku sedang bermimpi? Nalia mencubit lengannya, dia merasa sakit. Tidak, dia sedang tidak bermimpi. Lantas, siapa sebenarnya pria itu ?”

Beribu pertanyaan memenuhi pikirannya. Kenangan kenangan lama yang pahit atau manis kembali memenuhi kepalanya. Seorang memanggilnya, membuyarkan lamunannya.

“Nalia” suara itu terdengar jelas.
“Pieter, kaukah itu ?” gumamnya.

“Naliaaa, kita sudah ketinggalan angkot. Cepatlaah!” Shania berteriak kearahnya.
Nalia tidak sadar jika dia sengan melamun. Tanpa banyak pikir, dia langsung berlari bersama Shania. Tampak diseberang jalan, mereka akhirnya menaiki angkot berwarna biru.

Suasana yang cukup gerah didalam angkot yang sedang penuh, Nalia dan Shania harus duduk berimpit impitan karena penumpang angkot yang banyak.
“Mengapa kamu memilih angkot ini , Shania ? Huffftt” keluh Nalia
“Maafkan aku, cuma angkot ini yang lewat. Kamu sih, melamun melulu. Jadi banyak angkot yang kelewatan, mana mungkin aku tega ninggalin kamu sendirian” balas Shania.
“Hehe, ternyata salahku juga yaa. Hihi, maafdeh yaa” Nalia pun terkekeh.
“Apa sih yang kamu lamunkan, Nalia? Kok tadi kulihat serius banget ?”
“Hmm, gaada kok” balas Nalia berbohong.
“Ceritakan aja Nalia, aku tahu kamu menyimpan sesuatu dariku. Kamu jatuh cinta lagi yaa ?” goda Shania.
“Engga kok. Ini tentang……….Pieter” jawab Nalia terbata bata.
“Ooh, kenapa dengan Pieter ? Kamu berjumpa dengannya tadi ?”
“Tidak. Emmh, maksudku iya. Dia berdiri diseberangku tadi, tapi dia menghilang begitu saja.”
“Nalia, kamu pernah mendengar berita tentang teknologi teleportasi ?”
“Ahaha, kamu mecoba menakut nakutiku Ha ? Sudahlah Shania, sadarilah bahwa usahamu sia sia. Hahaha” Nalia pun tertawa terbahak bahak didalam angkot itu.
“Sudah, jangan berisik. Nanti saja kita bicara lagi. OK ?”
“Baiklah”

08:30

Sebuah bus berhenti tepat didepan pintu masuk RS. Pirngadi. Setelah memberi uang ongkos, seorang gadis berseragam SMA keluar dari bus lalu berlari masuk kedalam Gedung RS yang megah itu. Gadis itu berlari kencang, suara sepatunya terdengar lantang menapaki keramik lantai gedung rumah sakit itu. Dia menuju lift yang pintunya sedang terbuka. Dia ikut masuk kedalamnya. Sambil menunggu sampai dilantai tujuannya, dia menghela nafas sejenak karena terburu buru berlari.
Ponsel yang dipegangnya tiba tiba berdering. Dia langsung mengangkatnya.

“Lusi, dimana kamu sekarang?” tanya suara dibalik telefon itu.
“Aku sedang naik lift. Sebentar lagi sampai.”
“Kamu berhasil membawa Nalia kesini ?”
“Maaf, aku tidak berhasil membawanya”
“Argghh, yasudahlah. Ga apa apa. Cepatlah kemari !”
Lusi menutup ponselnya. Kini pintu lift terbuka, dan dia adalah orang pertama yang keluar dari lift. Lalu dia berlari mencari kamar yang dia tuju. Ketika sampai, dia langsung membuka pintu.
Ketika pintu terbuka, ia melihat sekerumunan teman-temannya sedang berdiri mengelilingi seorang yang tergeletak lemas diatas tempat tidur. Mereka semua keheranan melihat kehadiran Lusi, tanpa membawa Nalia
“Dimana Nalia? Kamu tidak membawanya ?” tanya Dinda, temannya.
“Maaf, aku tidak membawanya”
“Lantas, mengapa kamu kembali ke sini jika kamu tidak membawanya, Kamu bisa hubungi kami.”

Lusi yang tadinya diam , kini menjerit histeris.

“Kalian sama sekali tidak mengerti ! Kalian tidak tahu perasaan Nalia jika aku membawanya kemari. Dia pasti akan sangat sedih sekali. Aku tahu Pieter sangat menyayanginya, tapi sanggupkan Nalia melihat Pieter terbaring disini sambil menyaksikan jam-jam terakhir dalam hidupnya ?

Semua yang ada diruangan itu terdiam

“Tapi, Pieter mengucapi nama Nalia berulangkali, tidakkah kamu kasihan melihatnya. Saat dia memanggil nama Nalia, aku berusaha mengatakan padanya berulangkali kalau Nalia pasti akan dibawa kesini. Tapi aku seakan akan mengingkari janjiku sendiri…” ujar Reynaldi penuh kelesuan.

“Iyaa, aku tahu. Maafkan aku sekali lagi. Ini demi kebaikan Nalia.”

“Nalia, dimana kau” Pieter bergumam. Semua perhatian kini tertuju pada segelatak sosok yang terbaring diranjang.
“Maafkan kami, dia tidak ada disini.” ujar Reynaldi.
“Rey, kalau boleh tahu, Pieter menderita penyakit apa ?” tanya Dinda penuh penasaran
Tiba tiba Dokter membuka pintu, menghampiri mereka dan langsung berbicara.

“Dia menderita penyakit TBC Kelenjar yang ada dilehernya. Awalnya penyakit ini tidak terlalu berbahaya. Tapi kuman yang ada dilehernya sudah menyebar kesemua sistem organ tubuhnya dan menonaktifkan sistem kekebalan imun tubuhnya. Kini kesembuhannya hanya bisa dilalui melalui proses operasi” Dokter Anton Henrich mengakhiri perkataannya.

Semua tertunduk lesu, tidak mampu berkata apa apa.

“Setengah jam lagi, pasien akan dioperasi. Kami akan berusaha mengangkat kuman itu dari lehernya. Kini keselamatan hidupnya tergantung pada keberhasilan proses operasi yang dia jalani.”

Kini Dokter Anton Henrich meninggalkan mereka. Setelah menuntup pintu, suasana kembali hening.

Dua orang gadis turun dari angkot berwarna biru bergaris kuning. Mereka lalu berjalan bersamaan masuk kedalam SUN Plaza yang sangat besar. Bersamaan dengan mereka, banyak orang berkantung tebal yang akan menghabiskan waktu dan uang mereka di tempat hiburan dan surganya belanja, SUN PLAZA.

“Gerah banget loh tadi diangkot, belum lagi lama nyampenya. Engga mau lagi aku naik angkot itu. Hffftt sebell” gerutu Nalia.
Shania hanya senyam senyum aja melihat tingkah laku sahabatnya ini. Mereka masuk kedalam gedung SUN, seketika mata mereka langsung berbinar melihat aneka barang barang yang indah dipajanh di pintu masuk SUN.

“Liatt tuh bajunya, keren kali. Seperti yang sering dipakai Katy Perry ituloh ”
“Iyayaah, coba liat KFC disana. Jadi pengen makan nih ” kata Shania sambil memegangi perutnya.
“Oiyaa, sekalian kita perbaiki jam tanganku yang rusak. Itu kan ada tokonya” Nalia menunjuk toko jam disana.
Mereka menghampiri toko jam itu, lalu menyerahkan jam tangan itu untuk diperbaiki.
“Pakk, kacanya tolong diganti ya. Sekitar dua jam lagi kami akan kembali kesini”
“Oke. Biayanya 20 ribu nak ”
Shania merogoh kantungnya dan menyerahkan selembar uang berwarna hijau kepada tukang jam itu.
“Kami akan kembali ya Pak” sahut Nalia dan Shania.
“Iyaa”

Mereka meninggalkan Toko Jam itu dan berjalan entah kemana tanpa tujuan. Mereka lalu menaiki eskalator sambil mengobrol ringan”

“Kamu ingat tujuan kita kemari ?” tanya Shania.
“Sebentar… makan es krim Fountain” jawab Nalia dengan wajah bersemangat.
“Yupp, betul sekali. Berapa sisa uang yang kita miliki ?”
“Itu rahasiaa, Hihi ”
“Baiklah. Tadi pagi kamu benar benar melihat Pieter ?”
“Ya. Tadinya dia ada diseberang jalan, tetapi saat aku menoleh sejenak, dia sudah hilang begitu saja.”
“Mungkin kamu sangat merindukannya, sehingga otakmu memproyeksikan bayangannya seakan akan kamu sedang melihatnya. Kamu sangat merindukannya bukan?”

“Mungkin saja benar. Akhir akhir ini aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Dia memang sering mengajakku ketemuan. tapi aku selalu mencari alasan menolak.”
“Tebakanku tepat! Kamu menyiksa dirimu sendiri. Kamu itu ingin jumpa dengannnya, tetapi saat ada kesempatan, kamu selalu mengabaikannya.”
“Aku yakin dia engga apa apa kok. Buktinya dia tidak marah ataupun kesal kalau pertemuan kami gagal. Dia selalu bersikap baik padaku”
“Disitulah letak kesalahan terbesarmu,Nalia. Dia berusaha memendam rasa kecewanya karena selalu tidak bisa berjumpa denganmu. Walau dia bersikap baik, sesungguhnya hatinya sangat kecewa. Kamu seharusnya bisa mengerti perasaannya. Kesabaran manusia itu ada batasnya, Nalia”

“Ya, kamu benar sekali sahabatku. Selama ini aku tidak pernah berfikir demikian. Seharusnya aku menuruti keinginannya”
“Nalia, dia sudah menganggapmu sosok spesial dihidupnya, buktinya dia membelikanmu jam tangan yang cantik. Seharusnya kamu paham, dia tak ingin kehilanganmu, Nalia. Jika kamu mau, aku bersedia menemanimu menjumpai dia langsung kesekolahnya dan berjumpa dengannya. Kamu mau ?”
“Baiklah, Shania. Kamu baik sekali. Terima kasih.”
“Ya, sahabatku. Ngomong omong, apa kamu sudah tidak sabar  ingin mencicipi lezatnya Ice Cream Fountain ?”
“Ya. Untuk itulah tujuan kita kemari”
“Ayooo”
Mereka segera menuju Kafe Fountain dilantai 4. Dan segera mengambil tempat duduk disalah satu bangku untuk menikmati ES Fountain yang lezat, lebut dan tentunya agak memaksa mereka merogoh kocek lebih dalam lagi.

to be continued

Iklan

Tulis Komentar Anda. Pakai Facebook atau Twitter disarankan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s