[CERPEN] MLS Series Part 2 : CONFLICT

hi-hospital-blur-852

Cerita ini adalah sekuel dari cerpen sebelumnya, Beginning.

Walaupun masih pagi, tetapi lorong rumah sakit itu sangat sibuk. Banyak suster yang berlalu lalang membawa berkas ditangannya, banyak pasien yang keluar masuk kamarnya dan juga tim dokter yang berlari lari disekitar lorong. Tetapi dalam beberapa menit saja, lorong itu kembali sunyi. Disebuah pintu kamar operasi yang terletak diujung lorong, terlihat beberapa siswa SMA sedang cemas menunggu diluar kamar operasi.

“Ada yang tahu nomor ponsel orangtua Pieter?” tanya Reynaldi memecah kesunyian.
“Tidak, Rey. Dia engga pernah beritahu nomor orangtuanya pada kita.” jawab Dinda.
“Emangnya ponselnya knapa? Nomornya pun sering kali ngga aktif” tanya May penasaran.
“Dia pernah bilang kalau ponselnya rusak dan lagi diperbaiki. Katanya layarnya pecah dibuatnya”

Keadaan masih sunyi. Begitu juga didalam ruang operasi. Tim Dokter sedang berusaha keras menyelamatkan nyawanya.

Seketika sebuah bola lampu berpijar terang dan keluar dari dalam kepala Christian.
“Aku tahu bagaimana caranya!” perkataannya membuat semua temannya menjadi penasaran.
“Cara apa maksudmu? katakan pada kami!” sahut Dinda tak sabar.

Tanpa menjawab, Christian mengeluarkan laptop dari dalam tasnya, lalu menghidupkannya. Sejenak dia terdiam menunggu laptopnya menjalani proses booting dengan sempurna.

“Reynalid, coba kamu periksa tasnya si Pieter. Dia pernah bilang samaku kalau dia menyimpan username-password akun Gmail miliknya dihalaman terakhir buku catatannya. Cepat ambil. Warna bukunya biru!” kata Christian cepat.
Tanpa basa basi, Reynaldi meraih tas Pieter lalu mengubrak abrik isi tasnya untuk mencari buku catatan yang dimaksud oleh Christian.

“Christian, apa yang akan kamu lakukan” tanya Dinda.
Sambil terus mengetik sesuatu dilaptopnya, dia menjawab “Aku akan mencoba meretas akun Googlenya, lalu mencuri data-data berupa sms atau kontak ponselnya. Dengan begitu, kita dapat mudah menemukan nomor ponsel keluarganya”
“Itu mustahil. Apakah bisa dilakukan walau ponselnya sedang rusak?” tanya Icha.
“Pieter ahli dalam mengoperasikan ponsel Android. Dan dia pasti sempat menyikronkan (sikronisasi) salinan data-data berupa kontak dan disimpan diserver google. Dan jika kita punya usernama-password akun googlenya, kita akan dapatkan semua kontaknya.” jelas Christian.

Dan kini semua pikiran teman-temannya terbuka jelas. Mereka sangat mengerti apa yang dimaksudnya dan idenya yang brilian.

“Dapat! Aku dapat bukunya!” kata Reynaldi tiba tiba.
“Baguslah. Sekarang cari dihalaman belakang buku itu.”
“Ini dia. usernamenya pieyterm@gmail.com”
Christian mengetiknya dengan cepat dan tak ingin kehilangan waktu.
“passwordnya apa?” tanya Christian.
“Passwordnya ialah nama ceweknya sendiri” kata reynaldi berbasa basi.
“Siapa nama ceweknya?”
May berdiri mendekati Christian, dan membisikkan sesuatu ketelinganya. Sesaat kemudian, Christian mengangguk-angguk mengerti. Jarinya dengan cekatan mengetiknya dan mengakhirinya dengan 1 tekanan tombol Enter yang agak keras.
“Tekkk”

Dengan sedikit trik, Christian memasuki database kontak akun google itu. Beberapa saat kemudian, kontak google itu pun berjejer lengkap dengan foto, nomor dan detailnya dilayar laptopnya.
“Ya, aku berhasil”
“Kamu hebat Christian!” mereka menepuk-nepuk bahunya.

“Ini nomornya! cepat hubungi!”

Dinda meraih iPhone miliknya dari saku roknya. Lalu dia mengetik sesuatu dan menempelkan ponslenya ditelinganya. Kini terdengar nada tanda panggilannya kini sedang tersambung.

09:25 Dirumah Pieter

Titttttt. Wanita itu mengangkat telefonnya.
hallo”“Tak sempat wanita itu  berbicara, suara diseberang sana sudah keburuan bicara dan menjelaskan semuanya. Wanita itu hanya terpaku, terdiam. Ponselnya terjatuh dari genggamannya.
Sesaat kemudian, wanita itu menjerit histeris.


“Shania, aku sangat senang hari ini. Ini adalah hari terbaik yang pernah ada. Semua kulalui bersamamu, Temanku yang paling baik.” kata Nalia sambil merangkul bahu sahabatnya itu.
“Sama sama Nalia. Aku juga beruntung punya sahabat sepertimu”
“Lihat jam tanganku ini. Sudah bagus seperti sediakala. Pieter pasti senang jika kita menjumpainya dan dia melihatku memakai jam tangan pemberiannya ini”
“Baguslah. Ohiya, kita jadi kan kesekolahnya hari ini?” tanya Shania.
“Jadi dong, ayoo!”

Mereka berdiri dibelakang sebuah mobil Livina X Gear yang terparkir dipinggir jalan. Nalia dan Shania sudah naik kedalam angkot dan pergi saja. Tiba tiba, mesin Livina X Gear itu dihidupkan. Semua pembicaraan antara Nalia dan Shania tentu didengar jelas oleh seseorang berjaket dan berkacamata hitam yang ada didalam mobil itu.
“Haha, sudah kutebak kau akan pergi kesana. Tunggu saja aku disana. Aku akan memberikan sedikit kejutan padamu” Laki laki itu tersenyum seram penuh arti. Sesaat kemudian, ia meraih ponsel didalam saku jaketnya. Laki laki itu menelepon seseorang.


Dikamar operasi, waktu yang bersamaan.

Tiba tiba ponsel dokter yang tersimpan disaku celananya bergetar. Sesaat dia menjauh sejenak dari rekannya yang sedang bekerja. Dia mengangkat telefon, dan suara yang amat dikenalnya kini berbicara padanya.
“Hallo Bos”
“Kini saatnya kau laksanakan tugasmu”
“Sekarang, Bos?”
“Ya. Ini waktunya. Kau bunuh dia sekarang. Tapi ingat!, harus rapi dan jangan sampai orang lain mengetahuinya”
“Baik, Bos. Anda bisa mengandalkan saya”
“Baiklah. Cepat”
“Laksanakan!”

Dokter itu sejenak menyuruh ketiga rekannya untuk keluar sebentar mengambilkan obat dikamar yang tak jauh dari ruang operasi. Lalu ke-3 rekannya itu mengangguk mengerti dan segera pergi.

Dikamar operasi itu, tersisalah Dokter Anton Heinrich bersama Pieter yang terbaring lemah diranjang operasi. Dokter itu mengambil sebiji pil sianida dari sebuah toples. Pil sianida itu tak lain adalah racun bunuh diri yang pernah digunakan oleh Adolf Hitler untuk bunuh diri di bunkernya. Jelas pil itu sangat mematikan.
“Minumlah pil ini, dan segeralah temui ajalmu. Maafkan aku”
Dokter itu memasukkan pil itu kedalam mulut Pieter dan menuangkan segelas air kedalamnya.
“Racun itu sudah masuk kedalam tubuhmu dan membunuhmu perlahan”
Lalu ketiga rekan dokter itu sudah kembali masuk kedalam kamar dan mereka melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


Sepasang suami istri sedang berjalan kebingungan dikoridor Rumah Sakit yang luas itu. Mereka harus mencari anaknya yang sedang dirawat di RS ini.
“Pah,ayo pa, telfon lagi mereka. Bilang dimana anak kita dirawat! Buruan pah!”
“Baik, biar papa telfon mereka.”
Pria itu merogoh ponsel disaku celananya. Belum sempat dia meraih ponselnya, terdengar deringan ponsel itu tanda panggilan masuk. Pria itu menjawab telfonnya.
“Hallo”
“Datang keruangan 53 B lantai 5. Trus kamarnya ada diujung dekat toilet.”
“Iyaa nak. Makasih ya. Tunggu kami kesana.”
Pria itu menutup telfonnya.
“Pah, gimana ? Apa kata mereka?”
“Mah, kita keruangan 53B lantai 5. Katanya kamarnya dekat toilet. Ayoo mah!”
Mereka bergegas menuju lantai 5 dengan tergesa gesa. Setelah menaiki lift berkali-kali, mereka mencari ruangan didekat toilet.
“Pah, itu ruangannya. Dan itu pasti teman-teman si Pieter”
“Ya. Ayo kita hampiri mereka!”

Reynaldi dkk melihat diujung lorong, sepasang suami istri sedang berlari menghampiri mereka.
“Itu pasti orangtuanya Pieter”

“Dimana anak saya? apa yang terjadi ” kata Ibu itu sambil histeris.
“Tenang dulu,Bu. Kata Dokter, dia harus diopersai darurat. Pasti semua baik baik saja” ujar Reynaldi yang berusaha menenangkan kedua orangtua itu.
“Iya bu, Dokter akan bekerja sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawanya” Dinda menambahkan.
Mendengar perkataan mereka, kedua orangtua itu untuk sementara menjadi tenang.
“Oiya Pak, tadi saya dengar kalau dokter bilang bahwa Pieter menderita penyakit TBC Kelenjar. Betul pak ?” tanya Reynaldi.
Iya nak, penyakit itu sudah lama dideritanya. Awalnya hanya tonjolan dilehernya. Ternyata itu TBC Kelenjar. Bapak sendiri engga menyangka bisa begini jadinya”
“Oh gitu ya Pak. Tapi kenapa dia engga pernah bilang kekami kalau dia menderita penyakit separah itu ?” tanya Dinda lagi penuh penasaran.
“Kami sudah mengingatkannya jika dia tidak perlu mengumbar penyakitnya pada siapapun. Karena itu bukan penyakit yang patut dibanggakan, malah harus disembunyikan. Untung saja itu bukan tipe penyakit menular.”
“Maksudnya gini Pak, andaikan kami sudah mengetahuinya, kami sebagai temannya bisa bersikap waspada jika dia tiba tiba merasakan penyakitnya sewaktu -waktu bisa kambuh, kami bisa langsung membantunya”
“Terima kasih sebelumnya untuk kalian, sudah punya niat yang baik pada anak saya. Tapi bapak belum berfikir sejauh itu. Yang bapak fikirkan bagaimana anak saya tetap bisa bergaul dengan teman temannya tanpa harus merasa minder.”
“Begitu ternyata. Kami mengerti” Dinda mengakhiri pembiacaraan.

Mereka masih menunggu dilorong rumah sakit itu. Ada yang sibuk dengan kegiatannya masing masing. Sedari tadi Christian masih saja berkutat dengan laptopnya. Kalau bukan karena ada stopkontak listrik didekat tempat mereka duduk dan hotspot wifi gratis dirumah sakit itu, dia pasti sudah mematikan laptopnya. Kini dia sedang sibuk mengubrak abrk data akun google Pieter yang berisi sms percakapan Pieter dan Nalia yang sempat tersimpan diserver google.

“Hey teman teman, gimana sekarang hubungan mereka ” tanya Tian.
“Hubungan siapa maksudmu” tanya May.
“Iniloh. Hubungan si Pieter dan Nalia?” tanya Tian lagi.
“Oh. Entahlah, sekarang mereka udah putus hubungan. Mereka engga pernah lagi ketemuan, smsan pun engga pernah lagi. Tapi si Pieter pernah curhat samaku kalau dia masih menyimpan perasaan suka sama Nalia” jelas Dinda.
“Serius kau , Din ? Cieelah, sampai hati kali si Nalia. Mungkin itu yang membuat Nalia bosan menunggu” tambah May.
“Sebentar, kalian sedang membicarakan anak saya kan? Siapa tadi namanya ?” tiba tiba Pak Pieter angkat bicara.
“Nama ceweknya Nalia, om”
“Ohiya pah, anak kita kan sering curhat sama kita kalau dia punya cewek yang dia taksir. Ituloh pah, yang katanya pakai kacamata, pintar, dan cantik jugaloh” balas Mama Pieter.
“Iya mah, papa ingat kok. Trus gimana mereka sekarang ?”
“Itulah om yang kami kurang tahu. Nalia udah memutuskan hubungan mereka dan kurasa Pieter masih suka tuh sama dia.” kata Dinda
“Dari mana kamu tahu, nak ?” kata Pak Pieter.
“Piter kan teman dekat kami. Jadi  dia sering curhat sama kami. Asal dia punya berita tentang Nalia, dia selalu smsan sama kami”

“Pah, kenapa ya kalau Pieter jarang cerita sama kita? Padahal kita orangtuanya”
“Mungkin mah, kita itu terlalu sibuk dengan kerjaan kita.”
“Mungkin jugaa kali ya Pah.”
“Iya Mah”


13:15 SMAN 14 MEDAN

Kedua gadis itu turun dari angkot dan kini mereka berdua berada digerbang sekolah SMAN14 Medan.
“Akhirnyaa kita sampai juga. Jauh juga yaa perjalanan kita hari ini”
“Iya, emang kamu yakin kalau Pieter sekolahnya disini?”
“Iyaalah. Dia sendiri yang pernah bilang samaku kalau sekolahnya disini”
“Kenapa kamu engga sekolah disini aja, kan bisa barengan sama dia”
“Memang aku dulu pengen masuk kesini, tapi karena lokasinya jauh dari rumah, aku engga jadi lah.”
“Oh, baguslah kalau begitu. Yaudah, kita nunggu disini ajaya, mungkin sebentar lagi mereka pulang”
“Baiklah, Shania”

Kedua gadis itupun memilih duduk disebuah kedai didepan gerbangs sekolah. Disaat yang bersamaan, mobil Livina X Gear berhenti tak jauh dari gerbang sekolah. Sesosok pria berkacamata hitam mengamati kedua gadis yang sedang duduk dikedai itu. Pria itu mematikan mesin mobilnya.
“Pasti mereka sedang menunggu cowok sialan itu. Padahal mereka tidak tahu cowok yang sedang mereka cari sedang terkapar dikamar operasi dan sebentar lagi akan menemui ajalnya”
Pria itu lalu mengeluarkan sesuatu dari laci mobilnya. Sebuah pistol Glock M17 buatan Jerman dia genggam ditangannya. Pistol itu akan menembakkan peluru kapan saja dia menarik pelatuknya.”
“Hari ini kau akan menemui ajalmu Nalia. Sama seperti cowokmu yang juga akan menyusulmu”

Pria itu tertawa dingin dengan pekik yang menyeramkan.

“Agar kau tahu bagaimana perasaaanku sebagai ayah ketika kau tega mempermalukan anakku dengan menolak cintanya dirumahku sendiri. Setelah itu kau pergi begitu saja sambil memaki maki nama anakku. Karenamu, anakku Haris hanya sanggup mengurung diri seharian dikamarnya. Semangat hidupnya seketika musnah. Tapi saat dia mendengar kabar ini, dia akan senang sekali”

Dendam pria itu semakin memuncak. Ingin rasanya dia langsung keluar dari mobil dan langsung menembakkan peluru tepat kearah kepalanya agar Nalia mati seketika.

Tetapi, lonceng bel terdengar sampai kedalam telinga pria itu. Tak lama kemudian para siswa berhamburan keluar memadati gerbang sekolah. Kini Nalia dan Shania menghilang dari kedai itu. Pistol itu kembali dia simpan dilaci mobilny”
“SIALAN ! ” Pria itu emosi dan memukul keras dashborad mobilnya.


“Trus, kita mencari kemana nih. Kamu tahu kelasnya dimana?’ Tanya Shania
“Kita cari aja langsung kekelasnya. Dia pernah bilang kalau dia siswa X7.
“Ayo kita cari!”

Mereka berdua berjalan memasuki areal sekolah yang cukup luas. Seketika semua siswa keheranan melihat kehadiran mereka. Karena perbedaan seragam, Shania dan Nalia seakan mengerti arti tatapan mereka.

“Coba tanya dulu kelas X7 dimana?” tanya Nalia.
“OK Sebentar, aku akan tanya dulu”

Shania melihat sekawanan siswa sedang berjalan didekat mereka. Shania dan Nalia langsung menghampiri mereka.
“Hei, boleh tanya sesuatu engga ?” kata Shania.
“Boleh. Mau tanya apaa?” ujar seorang siswa.
“Emmh, kelas X7 dimana yaa ? maksudnya kelasnya dimana ?”
“Kalian mau cari siapa “ tanya seorang cowok.
“Kenal yang namanya Pieter. Orangnya tinggi, kurus, dan satu-satunya pengendara sepeda disekolah ini”.
Sekawanan siswa terdiam. Mereka memang mengenal Pieter. Karena dia ialah teman sekelasnya mereka sendiri. Gery, seorang cowok dari sekawanan siswa itu setidaknya mengenal cewek yang memakai kacamata disebelah cewek yang lagi bertanya. Kalau tidak salah namanya Nalia. Pieter sering bercerita tentang Nalia padanya. Termasuk tentang kenangan pahit bersama Nalia.
Untuk lebih tahu lagi, Gery mencoba bertanya balik.

“Kalau tidak salah namamu pasti Nalia kan ?” ujar sambil menunjuk kearah gadis yang memakai kacamata.
“Iya, benar. Darimana kamu tahu ?” tanya Nalia.
“Pieter” jawab Gery singkat.
“Berarti kalian kenal dia dong. Dimana dia sekarang?” tanya Shania.
“Pieter, tadi pagi dia…..” teman temannya berkata bersamaan.
Belum sempat teman temannya berkata, Gery langsung berbicara agak keras memotong pembicaraan teman-temannya itu.
“Dia tidak datang hari ini” jawab Gery. Dia jelas berbohong. Padahal Pieter datang kesekolah tadi pagi, namun tak berapa lama kemudian sebelum pelajaran dimulai, dia terpaksa segera dilarikan kerumah sakit karena penyakitnya kambuh.

Kini semua pandangan teman-temannya menatap tajam kearah Gery seakan- akan mereka mengatakan “mengapa kau berbohong pada mereka”

“Oh yasudah. Apa baru hari ini dia engga masuk sekolah?” tanya Nalia.
“Iyaa, baru hari ini saja kok. Mungkin besok udah masuk lagi. Datang besok lagi kalau mau” jawab Gery cepat.
“Baiklah, terima aksih ya. Kami pergi dulu” kata Shania.

Mereka berdua pun pergi dari hadapan mereka, lalu menghilang diantara kerumunan siswa lainnya.

“Mengapa kau berkata bohong padanya, Gery ?” tanya seorang teman ceweknya yang bernama Mustika.
“Iya Gery, bilang aja kalau si Pieter sakit trus dirawat di RS. Pirngadi. Dah selesai kan, kalau mau langsung dijenguknya kesana.” Kata temannya lagi yang bernama Ryo.
Gery terdiam sesaat, lalu menatap kedua temannya bergantian. Dengan nada kesal dia menjelaskan maksudnya.
“Ya, aku akan katakan pada mereka kalau Pieter sedang dirawat di RS. Tapi kalian harus tahu reaksi mereka mendengar ini, apalagi Nalia.
“Emangnya knapa , Gery?” tanya Mustika.
“Pieter sangat mencintai sosok seorang Nalia, begitu juga dengan Nalia sendiri. Jika Nalia mendengar kabar jika Pieter sakit, dia akan sedih, panik mendengar orang yang disayanginya sedang dirawat dirumah sakit.” Gery menghentikan sejenak perkataannya.
“Mustika, aku tahu Pieter juga menaruh rasa suka padamu, tapi perasaannya pada Nalia lebih besar daripada rasa sukanya padamu. Aku akan merahasiakan ini. Aku tahu benar apa yang kulakukan, dan aku juga berbohong untuk tujuan yang benar” pungkas Gery mengakhiri.
“Jadi, Pieter benar benar suka padaku?” tanya Mustika malu malu.
“Ya. Seisi kelas sudah mengetahuinya, bahkan sebelum kamu menyadarinya”
Gery lalu pergi meninggalkan Ryo dan Mustika.
“Gery, tunggu aku ! Kita naik angkot barengan ya !” teriak Ryo.
“OK. Ayo”

Tiba Ttiba pintu kamar operasi terbuka, Dokter dan rekannya pun keluar dari kamar operasi dengan raut wajah berseri seri. Melihat itu, orangtua Pieter dan teman-temannya beranjak berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Dokter tersebut.
“Dokter, bagaimana hasil operasinya “ tanya kedua orangtua itu.
“Puji Tuhan, operasinya berhasil. Kami dapat mengeluarkan kuman dari getah beningnya. Kini dia sudah sembuh. Mungkin tidak ada lagi alasan penyakitnya kambuh. Kalian bisa melihatnya sekarang, namun dia masih belum siuman. Itu butuh waktu yang cukup lama agar dia sadar”
“Terima kasih Tuhan. Saya sangat senang sekali mendengarnya. Terima kasih Dokter, kami berhutang budi pada kalian.”
“Sama sama Pak. Tidak perlu serepot itu. Sudah menjadi tugas kami untuk menyembuhkan siapapun yang sakit.”
“ya Dokter, Jadi kami bisa mengunjunginya sekarang?”
“Ya, silahkan. Kalau begitu kami permisi dulu ya”
“Baik Dokter. Terima kasih sekali lagi.”

Tim Dokter itu meninggalkan kamar operasi dan orangtua Pieter serta teman-temannya masuk kedalam ruangan kamar itu. Terlihatlah kini Pieter yang terbaring diranjang dan kondisinya terlihat membaik. Namun dia belum juga siuman.
“Syukurlah nak, kau sudah sembuh. Lihat wajahmu itu nak, sekarang sudah kembali bersinar. Tak beberapa lama algi kau sudah bisa kembali bersekolah dengan teman-temanmu. Lihat, mereka disini sedang menungguimu” kata Pak Pieter sambil mengelus dahi anaknya itu.

Bersambung ke Part 3

 

Iklan

Tulis Komentar Anda. Pakai Facebook atau Twitter disarankan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s