[CERPEN] MLS Series Part 3 ” MIRACLE

miracle-happens-banner-lined

Ini adalah cerita part ke 3 dari cerita sebelumnya CONFLICT dan BEGINNING.
Kalau sudah selesai membaca, harap diisi kolom komentarnya 🙂 Selamat membaca !

Terdengarlah suara pintuk diketuk seseorang dari balik pintu.
“Masuklah”
Pintu pun terbuka dan muncullah dua orang suster berbaju putih yang masuk kedalam kamar operasi.
“Pasien bernama Pieter kini akan dipindahkan keruangan rawat inap sebelum dia bisa pulang kerumah. Mari saya antar keruangannya”
“Baiklah sus.”
Kedua suster itu pun memindahkan tubuh Pieter keranjang beroda yang dibawanya tadi. Lalu dia keluar dari kamar operasi disusul oleh Orangtua Pieter dan teman-temannya.
“Suster, ruangannya dimana ?” tanya Mama Pieter.
“Bu. ruangannya ada dibawah. Sebelumnya kita harus turun menggunakan lift agar kita sampai”
“Baik Sus”
Mereka sama sama menuju lift didekat tangga darurat untuk turun kelantai 1. Ketika pintu lift terbuka, ternyata Dokter Anton Heinrich yang tadi mengoperasi Pieter ada didalam lift sendirian. Lalu mereka pun masuk kedalam lift itu, dan pintu lift pun tertutup.
“Maaf, anda pasti Dokter yang tadi mengoperasi anak saya?” Pria itu memberanikan bicara.
“Iya, Betul. Saya sangat senang melihat anak anda sudah sembuh sekarang” kata Dokter itu, lalu tersenyum seperti senyum terpaksa.
“Terima Kasih Dokter. Ini semua karena pertolongan Tuhan melalui tangan anda.”
“Iya. Sama sama pak”
Lift pun mulai bergerak turun. Tiba tba Pieter yang sedang terbaring lalu mendadak batuk batuk. Itu cukup membuat seisi lift kaget karena terkejut.
Disela sela batuknya, sebiji pil keluar dari mulutnya dan terlempar ketempat tidurnya. Dilihat dari bentuk pilnya, pil itu tidak sempat dilarutkan. Tetapi suster yang tahu betul jenis pil itu, terkejut karena keheranan.
“Mengapa ada pil sianida disini?” tanya suster itu pelan.
Pertanyaan itu lantas membuat seisi lift kebingungan tak menentu, kecuali Dokter Anton Heinrich. Jika pil itu tidak tertelan, itu artinya misi sang Dokter yang diperintahkan Bosnya untuk membunuh pasien itu gagal total. Tapi bukan itu yang dipikirkanya saat ini, yang terpenting ialah caranya melarikan diri sebelum mereka curiga. Satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas ditemukannya pil pembunuh diperut pasien adalah Dia sendiri.

Maka saat pintu lift terbuka, Dokter itu segera bergegas meninggalkan lift dan lari terbirit birit. Tapi Suster yang mengetahui kejahatannya segera mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang.
“Satpam, jaga seluruh pintuk keluar di RS ini. Tangkap Dokter yang bernama Anton Heinrich. Setelah tertangkap langsung serahkan pada polisi, nanti aku yang jelaskan masalahnya”
“Atas tuduhan apa ?” kata suara diseberang.
“Saya menemukan sebutir pil sianida dimulut pasien, beruntung pasien segera memuntahkannya. Diduga Dokter itu berniat membunuh pasien ini, motifnya belum diketahui”
“Baik baik, akan saya tindak!”
“Terima Kasih!”
Telepon ditutup.

“Suster, apakah benar Dokter tadi berusaha membunuh anakku ?”
“Iya, Pak. Saya sangat tidak menduga Dokter Anton bisa sekeji itu”
“Dokter itu sudah bekerja keras. Bahkan saya sudah menucap terima kasih padanya berulang kali. Tetapi dia tidak lebih dari serigala berbulu domba!” kata Pak Pieter dengan geram sambil mengepal keras tinjunya.
“Sabar Pah, Dokter itu akan segera tertangkap dan menerima ganjarannya. Yang penting, anak kita sekarang baik baik saja karena pilnya tidak terlanjur tertelan” balas Mama.

Akhirnya mereka sampai dikamar rawat inap dan menidurkan tubuh Pieter diranjang rumah sakit itu.
Kini Pieter dapat beristirahat sejenak sementara Orangtua dan teman-temannya setia menungguinya kapanpun Pieter sadar dari tidur lelapnya.


103424_dokterjahatts

Dokter Anton Heinrich (ilustrasi)

Dokter Anton Heinrich berlari sekencang kencangnya disepanjang koridor rumahsakit itu. Matanya liar menatapi sekelilingnya. Jauh dibelakangnya ada beberapa orang satpam sedang berlari mengejarnya. Orang orang yang ada dilobby rumah sakit itu cukup terganggu dengan adegan kejar kejaran itu. Meskipun terganggu, tidak ada seorangpun yang berniat menghentikan laju lari sang Dokter itu.
Dokter Anton Heinrich merogoh ponsel disakunya , dan menelpon seseorang.
“Halo, Dokter. Ada apa ?” sahut suara diseberang.
“Halo Bos. Aku tidak berhasil membunuhnya. Didepan mataku sendiri kulihat dia memuntahkan pil sianida yang kuberikan padanya. Maafkan aku Bos!’
“Dasar kau bodoh sekali. Kau tidak bisa kuandalkan.”
“Maaf bos”
Dokter itu menutup telfonnya. Tetapi ia terjatuh karena licinnya lantai keramik rumah sakit itu yang baru saja dipel oleh petugas kebersihan. Maka dengan mudah satpam yang berjaga dipintu depan itu langsung meringkusnya. Kini Dokter Anton Heinrich dibawa menghadap pihak yang berwajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.


“Sekarang kita akan pulang ?” tanya Shania.
“Ya, Kita akhiri saja petualangan kita hari ini. Jujur saja, aku cukup kecewa karena tidak bisa bertemu dengannya hari ini.” jawab Nalia.
“Oke. Beneran nih kamu engga kecewa ?”
“Gapapalah. Tapi, menurutmu Dia engga datang karena apa ?” tanya Nalia balik.
“Mungkin dia sakit, ada acara keluarga, atau…”
“Atau apa..?”
“Entahlah…”
Mereka bersama sama jalan menuju simpang untuk mencari tumpangan pulang. Mobil Livina X Gear itu kini tidak terlihat lagi disekitar situ.
“Shania. kamu pulang lewat arah mana ?”
“Aku pulang lewat arah sanaaa” kata Shania sambil menunjuk jalan disebelah kirinya.
“Baiklah, kita berpisah sampai disini. Terima kasih karena menemaniku sepanjang hari ini.”
“Yaa. sama sama. Daahh”
“Dahh”
Mereka berjalan berpisah, melawan arah.

Kini Nalia berjalan sendirian. Dia kecewa hari ini tidak seindah yang dia bayangkan. Terlintas dipikirannya, untuk langsung menemuinya kerumahnya. Tapi dia tidak tahu dimana lokasi rumahnya.
“Ahh lupakan saja, dilain waktu kami pasti bertemu.” kata Nalia.
Sebuah mobil angkutan umum membuyarkan lamunannya dan melintas didekatnya. Gadis itu langsung masuk kedalam angkot itu. Perlahan, angkot itupun mulai berjalan menyusuri jalanan.

Didalam perjalanan, angkot yang dinaikinya tiba tiba berjalan perlahan lalu berhenti. Sesaat perhatiannya tertuju pada sebuah Mobil Livina X Gear yang terperosok jatuh kedalam parit yang cukup lebar. Sontak saja kejadian itu membuat jalanan menjadi macet total dan orang berhamburan kejalanan untuk melihat langsung keadaan mobil itu.
Nalia memberanikan diri bertanya pada seseorang dari jendela angkot.
“Pak, kenapa mobilnya” tanya Nalia.
“Mobil ini tadi hilang kendali, trus masuk kedalam parit.Kata polisi, korban tewas hanya satu orang, supir mobil itu sendiri.” kata pemuda itu.
“Lha, yang meninggal cuma satu orang aja pak?”
“Iya, barusan aja mayatnya dibawa kerumah sakit pakai ambulans”
“Oh yaudah, makasih ya pak infonya”
“Iyaa, sama sama dek”
Setelah beberapa lama angkot itu berhasil menerobos kemacetan lalu kembali berjalan normal. Tak lama kemudian, Nalia pun sampai dirumahnya.
Gadis itu berjalan masuk kedalam rumahnya.
“Shalomm, Bapaaa, Mamaa Nalia pulaaang. Yuhuuu” panggil Nalia cukup keras.
Lalu pintu pun terbuka dan Ayah Nalia menghampiri Nalia untuk membukakan pintu gerbang.
“Nalia, kok agak lama pulangnya ?” kata Ayah Nalia.
“Iya Pah, ceritanya panjang. Nanti deh aku ceritain didalam” kata Nalia sambil membuka tali sepatunya.
“Ohya, Tadi ada teman kamu yang datang kesini. Katanya, temen kamu yang namanyaa… Siapa tadi namanya, papa lupaa” kata Ayah Nalia sambil berusaha mengingat namanya.
“Cewek atau Cowok Pah ?”
“Cowok. Yaa, namanya Pieter.”
“Oh, Pieter. Kenapa dengan dia ?” tanya Nalia penasaran.
“Temanmu, Pieter. Dia masuk rumah sakit.”
“Apaa? Rumah Sakit ? Lho, kenapa pah ?” Nalia mulai menitikkan air mata, raut wajahnya sedih.
“Katanya penyakitnya parah. Di RS Pirngadi dia dirawat. Kalau kamu mau, papa bisa antar kamu kesana”
“Yaudah, Pah. Ayo cepat, kita kesana.”
“Sebentar, Papa mau ganti baju dulu”
Pria itupun sejenak masuk kedalam rumah, sementara Nalia kembali mengikat tali sepatunya yang sempat dilepasnya. Perasaannya kini berkecamuk, antara sedih dan khawatir. Untung saja ayahnya langsung menghidupkan sepedamotor dan memacu sepedamotornya dengan kencang menuju Rumah sakit. Air mata Nalia bertebaran disepanjang jalan.
“Pieter, aku akan datang. Bertahanlah.” ucapnya dalam hati.


Tiba tiba pintu terbuka tanpa diketuk, kemudian seorang gadis masuk kedalam kamar rawat inap dengan raut wajah yang terburu buru.
“Lusi? Darimana saja kamu, kami mencarimu sedari tadi.” tanya Dinda.
“Aku baru saja dari rumah Nalia, dan sebentar lagi pasti mereka akan sampai disini” jelas Lusi.
“Oh. Baguslan kalau begitu.”
“Yaa. Ohya, bagaimana keadaannya?”
“Dia masih tertidur. Tapi tidak  perlu dibangunkan, nanti toh bangun sendiri.”

“Lihat, dia sudah membuka matanya ! Dia sudah sadar!” kata Reynaldi. sambil menunjuk kearah Pieter yang memang sudah terbangun. Semua pandagan kini tertuju padanya. Pieter membuka matanya lalu dengan tangannya dia mengucek ucek matany sambil menguap lebar lebar.
“Hoooaaaahhmm, halo teman teman. Halo Papa, Mamah. Ada yang bisa jelaskan aku lagi dimana sekarang ?” tanya Pieter dengan polosnya.
Lantas pemandangan itu membuat mereka sangat keheranan. Pieter seakan akan bugar seperti tidak terjadi apa apa padanya.
“Anakku, kau sudah sembuh. Nanti malam kita bisa langsung pulang. Papah udah bereskan urusan administrasinya”kata Mama Pieter.
Semua teman-temannya sangat bergembira mendengarnya. Raut wajah mereka berubah menjadi tersenyum yang sedari tadi raut wajahnya sangat tegang dan khawatir.
“Teman teman, kalian baik sekali. Terima kasih” kata Pieter
“Sama sama Pit. Kami sudah lelah menunggumu bangun. Tapi begitu melihatmu sehat, rasa lelah itu langsung hilang.”
“Untung saja aku hari ini bisa sembuh, dan besok aku akan kembali kesekolah. Aku punya banyak hal yang akan kuceritakan diblogku”

Namun ditengah tengah kegembiraan itu, Christian dengan raut wajah sedih yang terlihat dipaksakan menghentikan sementara kebahagiaan mereka.
“Pieter, aku minta maaf ya. Maafkan aku.” kata Tian dengan wajah sedih.
“Lho, kenapa Tian? Kau kan engga salah apa apa?” Reynaldi menimpali.
“Tian, ada apa?” tanya Pieter.
“Maaf, aku terpaksa membobol akun googlemu” tiba tiba raut wajahnya kini senang.
Seketika seisi kamar itu kembali tertawa karena ucapan Tian tadi.
“Huaaaaa, pasti kau membaca semua smsku dengan Naliaa kan ?” tanya Pieter yang kini senang.
“Iyaaa, maafya. Hehehe”

Nalia sudah berdiri didepan pintu kamar rawat inap itu, sesaat dia mendengar suara tawa dari dalam kamar. Dipegangnya gagang pintu dan perlahan dibukanya pintu itu. Sesaat semua mata tertuju padanya. Dia bisa melihat Pieter yang kini sudah bisa bangun dari tempat tidurnya.

“Pieter”
“Naliaa”

Nalia berlari menghampiri Pieter lalu memeluk tubuhnya erat. Kedua insan itupun berpelukan dalam keharuan. Nalia menangis melampiaskan bahagia dan rasa sedihnya yang kini dirasakannya. Lalu Pieter memberi tanda agar teman-temannya meninggalkannya berdua dengan Nalia. Teman temannya mengerti lalu beranjak pergi dari ruangan itu.

“Nalia, aku sangat senang melihatmu disini” kata Pieter pelan.
“Pieter, kenapa kamu engga bilang kalau keadaanmu seperti ini. Kamu bikin aku sangat panik ketika aku dikabari kalau kamu sedang dirawat disini.
Pieter terdiam sejenak. Lalu dia melepaskan pelukannya sebentar, ditatapnya wajah gadis itu dengan seksama. Dengan pelan dia melepaskan kacamata Nalia lalu meletakkannya diatas meja. Dia juga menyeka airmata Nalia dengan kedua jari jempolnya.
Nalia hanya diam saja.
Setelah menyeka airmata Nalia, Pieter kini memegan bahu gadis itu dengan kedua tangannya.

“Nalia, ketahuilah. Aku tak ingin membuatmu sedih ataupun panik. Lebih baik kamu tidak tahu keadaannku seperti ini daripada kamu menangis seperti ini dihadapanku. Sangat sedih dilihat jika wanita sedang menangis. Kamu mengerti ?”
“Maafkan aku Pieter. Jika aku selalu menolak ketika kamu mengajakku bertemu. Dan soal terakhir kali perpisahan kita, akhirnya aku tahu kalau itu cuma kesalahpahaman. Kamu sudah meminta maaf, tapi aku tetap bersikeras untuk mengakhiri hubungan kita. Maafkan aku.”
“Ketika kamu bilang padaku bahwa selama ini kamu tidak pernah menyukaiku ?”

Nalia terdiam. Dia masih mengingat semuanya.
“Tapi kini aku sadar, semenjak itu aku merasa bagian dari hidupku pergi menghilang. Aku kehilangan senyummu, candamu, dan….”
Tiba tiba Pieter memeluknya erat sekali lagi. Tangisan Nalia kembali pecah.
“Sadarilah Nalia, aku tidak peduli lagi tentang semua itu. Aku hanya ingin mengatakan kalau aku mencintaimu, dan takkan membiarkanmu lepas lagi, Nalia”
“Aku juga mencintaimu……………..Pieter”


EPILOG
“Dinda, bisa ambilkan lagi batok kelapanya? Nanti ayamnya engga matang lagi.” kata May.
“Oke sebentar may” Dinda beranjak pergi.
“Ngomong ngomong yang lain kemana ajasih? Si Pieter sama Nalia kemana ?”
“Tadi kulihat mereka duduk berdua dibawah pohon disana” Icha yang tiba tiba datang menyahut pertanyaan May sambil membawa sebakul penuh daging ayam yang akan dipanggang.
“Mereka ngapain, Cha ?”
“Tengok yuk, penasaran aku”

Dimalam yang indah, dibawah pohon rindang, Pieter dan Nalia duduk memandang langit malam yang indah bertabur bintang.
Pieter memegang tangan kanan Nalia, lalu keduanya saling berhadapan.
“A..aku boleh ngomong se..rius sama kk.amu ?
“Mau bicara apa ?”
“Sejak SMP aku itu udah suka sama kamu, dan sampai sekarang bahkan selama kita berpisah, perasaan ini masih utuh untukmu”
“Mmmh, Ya aku tahu itu.”
“Selama ini juga, aku selalu memendam perasaan ini sejak lama. Mungkin sekarang saatnya?”
“Apa..? Katakan….”
“Mmhh… Maukah kamu jadi kekasihku ?”

Nala terdiam sejenak. Dia memang sudah menduga inilah saatnya.
“Kenapa diam? Bagaimana menurutmu ?” tanya Pieter lagi.
Ditengah keheningan itu, muncullah May, Icha dan Dinda yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka.
“Liaa, terimaa aja. Udah kasian dia, gausah malu malu bilangnya” seru Dinda
“Ciee, tumben kau Pit berani nembak cewekk. Pssstt Hahaha” kata May
“Udahlah, terima aja Lia.” tambah Icha

“Hmm, iyaa. Aku mau”

END.         Terima Kasih telah membaca, tolong dong komentarnya.

Iklan

Tulis Komentar Anda. Pakai Facebook atau Twitter disarankan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s