Romantisme Ayam Penyet

ayam-penyet-spesial

“Biarlah cinta kita tumbuh seperti kisah Ayam Penyet, walau kita ditumbuk begitu kerasnya, disiram dengan saus pedas, ditusuk-tusuk dengan pisau dan garpu, dikunyah kunyah oleh puluhan gigi beraroma nafas menusuk hidung, tetapi buktikan kita dapat bertahan dan mampu menciptakan rasa berbunga-bunga dilidah manapun kita ditempatkan”

Entah apa yang buat gue tiba tiba buat postingan tentang makanan plus taburan kata kata cinta begini. Yang gue tau itu makanan ya makanan. Cinta ya cinta. Ngapain dicampur kan ? Tapi karena gue udah terlanjur nulis, ya nikmatin aja. Anggap aja baca tulisan ini kayak lagi makan ayam penyet plus sambal pedas yang menggoda selera.

Makanan khas Indonesia ini memang unik. Seakan belum puas ayam itu hanya digoreng trus dihidangin, orang Indonesia mencari ide agar ayam itu lebih nikmat lagi. Lalu muncullah Ayam Penyet yang prosesnya, ayamnya digoreng lalu dipenyetin pakai tangan atau pisau.

Halnya Ayam penyet, cinta juga punya kesamaan. Bedanya, Ayam penyet itu makanan, Cinta itu perasaan
( yangbaca: Lah, itu mah gue tau PEE’A)
Kalo seseorang datang kekedai Ayam Penyet. Ketika ia menginjakkan kakinya dialas kaki kedai itu, pasti yang pertama kali orang itu rasakan ialah rasa nikmat Ayam yang sudah menjalari lidahnya, padahal dia samasekali belum mencicipi ayamnya.
Begitu juga jika ada dua orang pacaran yang udah lama jadian, kalau mereka jalan jalan kesuatu tempat dimalam minggu, pasti mereka jalannya barengan sambil pegangan tangan. Kebetulan ada orang lain yang berada disekitar mereka (yang lagi pacaran itu) pasti akan merasakan sesuatu.
Minimal ngelirik sedikit dan ngomel cincong, lalu melanjutkan aktifitasnya.
Kita sebut saja namanya Jones, misalkan dia belum berpacaran. Dengan melihat orang lagi pacaran, padahal si Jones ini belum pernah pacaran sekalipun (karena diputusin melulu, atau engga diPHPin) maka si Jones ini secara otomatis merasakan indahnya pacaran tanpa jadian terlebih dahulu.

Ngerti enggak? Mudah mudahan Iya.

Kembali ke-quotes pertama tadi, silahkan anda scroll lagi keatas dan pahami artinya.
Aku pengen kita menjalin cinta seperti halnya Ayam Penyet. Mengapa Ayam Penyet itu tetap nikmat, tetap sedap walau sebelum dihidangkan mengalami serangkaian penderitaan dan penyiksaan?
Sebut saja pertama kali Ayam yang masih hidup dipotong lehernya, direndam diair panas, dikuliti, dimutilasi, direbus, digoreng, dicampuri bumbu, lalu disajikan.
Lihatlah begitu strongnya ayam itu menjalani penderitaan, namun dibalik penderitaannya, akhirnya setiap orang yang memakan ayam itu keringatan saking kenikmatan.

Cinta sejati ialah cinta yang tetap bertahan mengarungi kerasnya dunia, masih bisa saling bergandengan walau berada dijalur yang berbeda, tetap saling tersenyum, dan bersama sama mendaki gunung hingga kepuncaknya. Yang menunggumu dipuncak itu bukan cinta sejatimu, karena dia tidak mendaki bersamamu.
Tapi haruskah leher kita dipotong dahulu, direndam diair panas, dikuliti, dimutilasi, direbus, digoreng, dicampuri bumbu,disajikan agar kita tahu cara menjalin cinta yang kuat?
Dan sedikit orang yang mengetahui hal ini. Cinta itu hanya sebatas perasaan, dan tidak membutuhkan pengorbanan. Begitu kata mereka. Maklumlah, dimasa remaja, banyak yang putus nyambung dalam berpacaran. Akibatnya banyak yang menyalah-artikan cinta. Ketika sang cowok/cewek merasakan ketidaknyamanan dalam berpacaran, atau sedikit masalah sepele yang dianggap serius, maka langsung diambil keputusan akhir tanpa dipikir dahulu. Putus

Seharusnya jika kita punya masalah, kita selesaikan bersama. Mengapa kesalahpahaman menjadi pengakhir hubungan kita. Dalam kamus Ayam Penyet, tidak ada yang namanya Salah Paham. Yang ada salahpaham antar pembeli-kasir.

“Bang, beli ayam penyetnya dong. Dua bungkus aja yaa Bangg”
“Bagian mananya neng? Pahanya, Dadanya, sayapnya?”
“Hatinya. Kalo bisa hatinya abang juga buat eneng deh”
“Pppmmfffttt” *mati

Iklan

Tulis Komentar Anda. Pakai Facebook atau Twitter disarankan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s