Aku tidak meminta ketika aku tidak membutuhkan. Orang-orang seakan mencari keberadaanku, ketika aku berusaha mencari seseorang yang bisa kujadikan sebagai teman. Lalu orang-orang seolah menjauhiku, ketika aku tidak membutuhkan mereka. Semuanya terlihat sederhana, tapi kadang sering bertabrakan dan menimbulkan kesalahpahaman.

Aku tidak tertawa saat tidak ada yang lucu. Aku tahu suatu kesalahan bukan sebuah hal yang lucu. Bukankah sebuah kesalahan itu wajar? Aku juga tahu rasa malu samasekali tidak ada hubungannya dengan kelucuan. Lalu mengapa, ketika aku berbuat salah, mereka menertawakanku? Sementara orang normal menganggapnya hal yang wajar?.

Mengapa ketika giliran mereka yang berbuat salah, mereka terkekeh lalu tertawa? Tepatnya, menertawakan diri mereka sendiri. Sementara aku—sebagai orang normal, menganggap tidak ada yang lucu, dan itu hal yang wajar. Bukankah sebuah kesalahan itu wajar?. Ekspresi tertawa itu yang membuat segalanya tampak berlebihan. Ini terlihat sangat aneh. Sungguh.

Aku tidak tahu menahu apapun persepsi mereka terhadapku. Tapi apapun itu yang mereka katakan—itu tidak benar, dan itu bukan hal yang wajar. Semua kata-kata seperti itu hanya diucapkan oleh mulut seseorang yang tidak normal.

Aku kadang bertanya-tanya, mengapa mereka tidak diciptakan sama sepertiku. Maksudku—mengapa mereka tidak menyukaiku? Itu karena mereka tidak bisa menjadi sepertiku. Mengapa aku tidak diciptakan aneh seperti mereka? Mengapa aku tidak diciptakan menjadi lebih bodoh dari mereka? Mengapa aku diciptakan lebih sempurna dari mereka?

Aku bukan orang spesial. Aku hanya orang biasa. Bisa terluka, bisa jatuh cinta, bisa menangis, kehilangan harga diri, terjatuh, menghembuskan nafas terakhir, dan mengalami segalanya layaknya manusia biasa. Termasuk mereka yang mengatakan segala sesuatunya yang aneh padaku, seolah-olah untuk merendahkanku.

Tapi, entah mengapa, aku kini merasa lebih tinggi dari mereka semua.

 

 

Ketika ada seseorang ingin menjatuhkanmu, sesungguhnya dia sekarang berada dibawahmu.

Aku suka mengatakan ini, bahwa mereka yang menghina ‘anda’, sebenarnya dia sekarang berada dibawahmu. Dan jika kau bisa berbuat lebih, kau bisa melakukannya lebih baik lagi, dan mengatur mereka dengan perubahan dalam diri ‘anda’. Anda bisa menginjak-injak mereka—nyatanya mereka sekarang ada dibawahmu.


Mereka tertawa. Mereka menjulurkan lidah. Mereka mengacungkan jari tengah. Mereka, mereka, mereka..

Mereka tahu aku hanya manusia. Yang memiliki emosi, dan batasannya. Tapi kadang mereka mengartikan tatapan marahku sebagai lelucon, dan tentunya mereka akan mengabaikannya. Mereka masih saja seperti anak kecil. Dasar saus tartar!

Aku tidak ingin terlihat lemah. Lemah tidak berarti apa-apa bagiku. Aku hidup bukan untuk menyenangkan mereka. Aku hidup bukan untuk menuruti semua peraturan mereka. Aku hidup bukan untuk dinilai oleh mereka. Ini hidupku, bukan hidupnya. Lakukan sesukahatiku, asal masih didalam batasan wajar.

Bernyanyi, walau suara tak begitu indah. Menarilah, walaupun nilai Seni Budaya dalam keadaan terancam. Berbicara, karena segala sesuatunya bisa diubah dengan bicara. Bernafas, tarik-hirup sepuasnya, karena kita tidak membayar untuk bernafas. Lalu apa?

Ini hidupmu, bukan hidupnya!


bullies

Ada saatnya aku tidak lagi dapat menahan mereka. Berkelahi? Tentu. Aku juga ingin tahu seberapa kuat aku memberi mereka pelajaran. Satu pukulan, mungkin sudah puas bagiku.

Membalas bualan mereka? Maaf, ini bukan tipe-ku. Itu hanya membuat mereka semakin merajalela, dan tidak terkendali. Aku pernah mencobanya, satu kali, dua kali. Tapi aku berfikir, ini tidak akan ada habisnya jika aku sendirian menghadapi mereka dalam urusan membual/adu mulut. Andaikan ini terjadi, adu bualan ini tak akan selesai bahkan ketika SBY kembali menjadi presiden di Indonesia.
Salah seorang temanku—yang mengerti perasaanku saat itu, melarangku untuk membalas bualan mereka. Aku tahu itu memang tidak perlu dilakukan (membalas bualan mereka), tetapi aku ingin tahu alasannya.

“Jika kau membalas ejekan mereka, itu artinya kau sama seperti mereka”

Kata-kata yang mengubah pola pikirku dari hari itu, hingga detik ini. Aku mulai merasakan efeknya, ketika aku berusaha bersikap cuek, dan tidak tahu—dan tidak mau tahu.

Mereka mulai bosan, tapi masih ada saja dari mereka yang masih belum menyerah. Dia masih membual. Padahal aku yakin dia pasti sudah gila. Semua orang ‘normal’ lainnya, mengira dia sedang berbicara sendiri, karena aku tidak memperdulikannya. Semakin lama, dia tidak usai juga. Aku tetap fokus pada pelajaran didepan kelas. Aku mulai menebak-nebak dalam diriku sendiri.

“Lima detik lagi kau masih membual, guru akan melihatmu dan mengeluarkanmu dikelas. Aku akan sangat senang jika melihatmu keluar dari kelas sambil membawa secarik kertas berisi panggilan dari BP. Yakinlah, mereka akan memotongmu hidup-hidup, dan memberikan sisanya pada burung Jalak ditepi sungai.”
Fokusku sementara ini agak terpecah. Namun aku melanjutkan.

“Aku akan mengadakan pesta syukuran 7 hari 7 malam andaikan jika esok hari ternyata kau dikeluarkan dari sekolah karena perbuatanmu hari ini.”
Aku diam saja, tetap memperhatikan didepan, dan tak mampu menyembunyikan tawa yang kupendam didalam hati. Hahaha


Ternyata selama ini aku sadar. Mereka melakukan semuanya itu hanya karena ingin mendapatkan perhatian dariku. Ternyata mereka menganggapku spesial, dalam arti yang berbeda. Sudah kubilang, aku hanya manusia biasa. Tapi kenyataan sebenarnya semakin menguatkan dugaanku.

Mereka membutuhkan perhatian dariku¸tetapi mereka melakukannya dengan cara yang salah. Andaikan saja mereka melakukannya dengan benar.
Aku tidak akan menduga-duga jika itu salah. Aku tak perlu membuktikan sesuatu, jika sebelumnya aku tahu itu hal yang salah. Mereka tak perlu menemukan cara yang salah, sementara dengan pola pikir yang positif—mereka bisa mendapatkan cara yang tepat.


Aku tidak perlu mengatakan sebuah hal yang benar. Mereka memang butuh sebuah cara yang benar.

Iklan

7 pemikiran pada “Bukan Sebuah Curhatan Seorang Bocah Idiot

  1. Kisah ini hampir mirip denganku, kalau mereka menjauh darimu, itu bagus. Tandanya kamu akan menjadi lebih baik dan lebih sukses dari mereka yang mencemooh atau meledekmu. Memang aneh, padahal tidak lucu, tetapi mereka tertawa, ketika berbuat salah, mereka tertawa, memang menyebalkan, tapi sabar saja. Kalau sukses nanti, teman-teman jangan dilupakan.

    Suka

  2. Sempet pusing bacanya, sekarang aku baru paham. Maafkan ya

    Inget kata-kata ini “Success is the best revenge” Anggap saja cemoohan itu sebagai semangat dan buktikan kamu bisa membalas itu semua dengan kesuksesan.

    Suka

  3. ah, lebih tepat mengatakan kalau mereka itu hanya iri pada kita.

    saya cukup sering dibegitukan. dan saya lebih memilih diam. menanggapi orang-orang itu tidak menunjukkan kalau saya benar ataupun lebih pintar.

    sudah sering sih aku lebih memilih diam ataupun hanya tersenyum kalau diledek aau apa. bukan takut, cuma bingung dan memang tak tahu harus apa untuk membuatnya diam.

    Kita jalanin hidup kita sendiri, orang lain boleh bocara tapi kita tetap yang menjalankan dan tuhan yang menentukan.
    Yakin aja kalau diri itu lebih baik dari mereka

    Suka

  4. The only thing more frustrating than slanderers is those foolish enough to listen to them. The important thing isn’t what other people think you are; it’s who you are.

    Haters are my favourite. I’ve built an empire with the bricks they’ve thrown at me. Keep on hating.

    Suka

  5. orang yang mencoba menjatuhkan kita memang ada dibawah kita. tapi gak meati kita injak-injak juga. kita menjadi baik bukan ingin membuktikan pada orang lain tapi untuk mengalahlan “aku” yg dimasa lalu.

    aku setuju orang yang mencaci dan membual adalah orang yg membutuhkan perhatian kita karena itulah kita dijadikan objek bualanya. keep writing mas!

    Suka

  6. Sudah biasa, ya… Hidup memang begitu. Ada yang suka dan ada yang tidak suka.
    Menurutku, kamu sudah cukup dewasa menghadapi situasi dan permasalahan seperti itu. Ya.. Dengan membaca tulisanmu itu sudah terlihat. Semoga saja memang begitu adanya. Setidaknya berkat mereka, kamu bisa lebih dewasa dalam hal pemikiran. Hahaha.

    Jangan menyerah! Tetap semangaaat! Buat mereka bungkam dengan prestasi dan karyamu. 🙂

    Suka

Tulis Komentar Anda. Pakai Facebook atau Twitter disarankan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s