Hai.

Bagaimana keadaanmu disana?

Apa kamu lagi sibuk?

Dengan kekasih barumu, mungkin?

Aku ingin kamu membaca ini sejenak saja, lalu anggap semua ini tidak pernah terjadi.

Aku ingin kamu mendengar sedikit ceritaku.

Baca cerita sebelumnya di Share Your Dreams dan The End Of Dreams

Kalau bukan karena malam ini adalah malam yang ke-365 sejak kita berpisah–sejak terakhir kali kita berpapasan wajah secara langsung, mungkin aku tidak akan menulis ini untukmu. Aku bisa saja berdiam diri, membiarkan semua konspirasi ini berlangsung di depan mata kita, tanpa ada kita di dalamnya. Tapi kamu tahu, aku tidak bisa untuk tidak melakukannya. Tuhan pencipta alam semesta yang sekarang ini kita tinggali ternyata masih bersedia memampirkan ingatan-ingatan lama tentang kamu untuk sekadar melintas di pikiran ku, yang akhirnya membuatku tergerak (lagi) untuk menulis ini untukmu.

Sejujurnya aku ingin bercerita sesuatu padamu.

Tahun 2017 sudah berlalu selama tiga puluh delapan hari. Dan sialnya aku tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh kebanyakan orang pada detik-detik awal pergantian tahun. Kita masih belum berbicara satu sama lain hingga sekarang ini, bahkan sudah terjadi selama 365 hari yang lalu. Tapi, mungkin itu tidak terlalu menjadi masalah untukmu, dan bahkan aku yang terlalu berlebihan berperasaan seperti itu.

Kebanyakan orang-orang, pada tengah malam,  akan membuka percakapan lama mereka dengan orang-orang di masa lalu di ponsel canggih mereka, dan mengucapkan beberapa kalimat seperti

“Selamat Tahun Baru ya. Maafkan kesalahanku di tahun yang lama kemarin, dan kita harus lebih berkomunikasi lebih baik lagi di tahun yang baru ini”

“Kesalahanku di tahun yang lama kemarin itu, ga usah ya diungkit-ungkit lagi.”

”Sudah satu tahun lamanya sejak kamu pergi. Kembalilah dari perantauan, aku rindu kamu”

Itu akan jadi percakapan yang hangat andaikan aku melakukannya. Sayangnya, aku tidak melakukan itu.

Hatiku berkecamuk. Jari-jari ini rindu sekali mengetik kata-kata indah seperti itu, tetapi antara perasaan gengsi dan perasaan rindu sedang berperang dengan hebatnya didalam pikiranku saat itu. Bahkan aku sendiri sebagai pemegang kendali sepenuhnya atas jiwa dan raga ini, dihadapkan dalam posisi memilih yang sangat sulit.

Walau kadang, perasaan rasionalitas dalam diriku akhirnya muncul, namun lebih memihak kepada perasaan rinduku yang terlanjur menggelegar. “Bukankah meminta maaf kepada seseorang saat awal pergantian tahun itu hal yang wajar dilakukan oleh semua orang?”,begitu kata sosok rasional dalam diriku, yang mungkin sudah sepakat untuk bersekongkol dengan perasaan rindu ini.

Tapi terkadang aku lebih memilih untuk menciptakan konspirasi bersama hujan.  Pada malam tahun baru yang riuh akan petasan, mungkin ada suatu tempat di belahan dunia lain yang malah sedang diguyur oleh hujan lebat. Hingga orang-orang yang sudah terlanjur menarik uang dari ATM sebesar 5-6 digit untuk berpesta kembang api tengah malam nanti, terpaksa harus gigit jari.

Hujan selalu memberi ketenangan bagi orang-orang yang menikmatinya, hingga kita sendiripun terkadang bisa melupakan hal-hal yang sedaritadi membuat kita jenuh. Seperti aku, yang lucunya lebih menikmati suasana hujan daripada ikut bertarung dan berusaha menenangkan pihak antara gengsi dan rindu yang asyik berdebat, walau mereka hanya berbicara tanpa adanya kuasa untuk berbuat.

Apa daya, bahkan ‘si pemegang kendali’ pun bingung untuk menentukan jalannya.

Dan aku menyadari bahwa,

hujan terkadang lebih seru diajak berkonspirasi, ternyata.


Malam ini mungkin akan turun hujan lagi.  Apa kamu sudah memakai mantelmu? Kudengar musim hujan bakal lebih dahsyat lagi pada tahun ini. Jadi apa kamu sudah pastikan persediaan teh hangat dirumah masih banyak? Aku sarankan kamu untuk tidur lebih awal malam ini, karena hujan akan turun begitu lebatnya.

Aku tahu seharusnya hujan lebat tidak turun malam ini. Aku tahu seharusnya aku harus menghubungimu pada malam itu. Seharusnya aku bisa mendengar panggilan hangat darimu lagi, yang dulu pernah menjadi setetes minyak dalam pipa tinta bolpoin yang digunakan untuk menulis lembaran kisah hidupku. Seharusnya aku menanyakan keadaanmu pada malam itu, dan kembali lagi hanyut dalam obrolan renyah yang biasa kita lakukan pada waktu malam hingga memejamkan mata.

Seharusnya dengan menghubungimu pada malam itu, aku bisa mendapatkan kembali sesuatu yang seharusnya menjadi milikku tepat tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu. Hatimu. Tempat untukku dihatimu.

Tapi apa salahnya sekarang, bukan? Benar. Aku sungguh-sungguh ingin melakukannya. Karena rindu yang menggelegar ini sudah lama mencabik-cabik kulit hatiku yang tidak berwujud ini. Karena walau hidup masih panjang, setidaknya aku sudah berhasil melepaskannya. Melepaskan semua hal-hal yang pernah kupendam sekian lamanya. Semuanya.

Baiklah. Akan kucoba sekali lagi.

Hai.

Bagaimana keadaanmu disana?

Apa kamu lagi sibuk?

Dengan kekasih barumu, mungkin?

Iklan

5 pemikiran pada “Menciptakan Konspirasi Bersama Hujan

  1. Sama seperti keadaan di sini mas, malam pergantian tahun baru diselimuti air yang turun dari langit, mulai sore hingga malam, meskipun hujan masyarakat tetep antusias menyambut malam tahun baru. Banyak keinginan yang mereka ucapkan di malam itu.

    Suka

  2. Wuuuiiihh……keren bener puisinya, istilahnya banyak paragraf yg menyentuh………wkwkwkwk :v

    Tentang rindu dgn seseorg atau “doi” pernah aku rasakan. Klo aku langsung hubungi dia tanpa perlu gengsi tapi sayangnya dia gk mau dihubungi. Jadinya begitulah, galau berkecamuk di hati.

    Tapi hujan itu memang bener bikin hati tentram loh…….aku juga seperti itu.

    Suka

Tulis Komentar Anda. Pakai Facebook atau Twitter disarankan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s